Pageviews
Popular Posts
-
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dibawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia dan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan da...
-
Merangkai serpihan mimpi untuk menjadikan impian yang sempurna. Bukanlah sebuah perjuangan yang sia-sia tak kala setiap puing-puing perju...
-
Ikhtiar. Itu yang sedang saya lakukan saat ini untuk bisa membuat semuanya menjadi nyata. Terdampar di Jawa Timur, Kediri – Pare untuk men...
-
Senja hari menjelang matahari kembali pada peraduannya, saya duduk di sebuah kursi taman. Rindangnya pepohonan membuat sejuk kota dengan...
-
Indonesia di “ elu-elu”- kan sebagai negara komsumtif tertinggi dan menjadikan masyarakatnya ketergantungan akan sesuatu. Ya, tidak dipungk...
-
Itulah mengapa aku harus keluar dari rumah. Untuk mengerti arti kerinduan. Itulah mengapa aku harus keluar dari rumah. Untuk mengerti a...
-
Komunitas Tangan Kedua. Suatu komunitas baru dibidang sosial yang mengajarkan aku banyak hal. Aku mulai bergabung dengan Komunitas Tangan ...
-
Finally, i have a blog. Sebenarnya keinginan untuk bisa berbagi tulisan dan mempublikasikannya melalui blog sudah ada sejak lama. Namun, ra...
-
Sepertinya hampir semua orang tau dimana dan apa itu kampung inggris. Suatu daerah yang menjadi tujuan manusia dengan berbagai profesi dan...
-
Lanjutan part 1 ... Setalah pilihan ditentukan, kini saatnya bagi saya untuk fokus menggapai impian. Semua akan tercapai jika kita mampu...
About
Blog Archive
About Me
Search Me
Sunday, 7 December 2014
Indonesia di “elu-elu”-kan sebagai negara
komsumtif tertinggi dan menjadikan masyarakatnya ketergantungan akan sesuatu.
Ya, tidak dipungkiri, hal itupun yang saya alami. Salah satunya “candu”
terhadap perkembangan teknologi yang membuat masyarakat negeri ini “latah”
untuk mengikuti trend teknologi terkini. Ketergantungan di
jaman modern yang katanya serba enak, apalagi jika tinggal di
kota besar, aksesnya mudah sekali dijangkau. Misalnya transportasi, setiap
warga nusantara dari golongan menengah pun sudah bisa menikmati transportasi
pribadi.
Nah, saya garis bawahi transportasi
pribadi yang menjadikan mobilisasi lebih mudah, manusia jauh lebih
produkif –seharusnya- karena kemanapun bisa langsung naik motor atau mobil, dan
kemudian, tadaaa.. sampai di tempat tujuan. Cepat dan efisien.
Pernah lihat acara televisi atau koran bahkan
artikel media online yang menginformasikan tentang negara maju dengan budaya
atau tradisi warganya berjalan kaki? Pasti pernah dong ya, dengan smartphone di
tangan setiap harinya, pastinya akses informasi jauh lebih cepat ketimbang info
melalui berita televisi dan koran hehee. Contoh negara maju dengan
tradisi warga pejalan kaki yaitu Jepang. Pemerintahnya memberikan ruang dan
akses bagi masyarakat untuk berjalan kaki. Tapi disini saya ngga akan
panjang lebar bahas tentang Jepang dan tradisinya. Saya lebih tertarik bahas
tentang negeri sendiri. I love Indonesia. Harus :)
Ada pengalaman yang mungkin unik
yang ingin saya bagi disini. Unik bagi saya, belum tentu bagi orang lain.
Relatif bahasa kerennya.
*****
Berawal dari masyarakat modern, tidak terelakan saya pun
terlena dengan segala kemudahan akses saat ini. Bahkan saat saya masih
kanak-kanak jika tersedia fasilitas transportasi pribadi akan membuat saya dan
siapapun terbiasa dengan kemudahan dan kenyamanan akses. Misalnya, ke sekolah
di antar jemput, ke tempat A, B, C dan D jauh lebih mudah lalu lama kelamaan
merasa keenakan. Sampai akhirnya saat dianggap usia “dewasa”, ngga bisa
apa-apa, jangankan bawa roda empat, motor aja ngga berani.
Manja maksudnya? Mungkin iya. Tapi udah pernah belajar, cuma ngga berani
keluar.
Sadar banget jadi manusia itu harus mandiri.
Mandirinya mulai dari diri sendiri, setidaknya mulai membiasakan diri pake transportasi
publik. Dipaksa untuk bisa lebih tepatnya. Kalau ngga salah
dimulai dari kelas 2 menengah pertama. Diajarin rutenya naik angkot biar bisa
sampai sekolah, diajarin caranya menjaga diri di angkutan umum, katanya “kalau
kosong jangan naik”, dikasih tau ongkosnya berapa dan lain-lain.
Sampai lulus SMA, akhirnya berhasil
“mandiri”. Ke sekolah sendiri naik angkot dan saat itu ga pernah kenal dengan
istilah main (main di sini maksudnya jalan-jalan sama teman sepulang
sekolah bawa motor/mobil sendiri, misalnya). Alhasil, karena jarang main, yang saya tahu hanya
rumah, sekolah, tempat kursus/bimbel. Cuma itu. Ngga pengen
tau dan ngga tertarik untuk belajar dan bawa kendaraan sendiri. Main ada
waktunya, tentu di hari libur, bersama teman atau keluarga.
Yap, kesempatan masa–masa sekolah sudah lewat,
masih nyaman dan ngga mempermasalahkan dengan namanya “ga bisa
bawa kendaraan”. Masuk ke dunia baru, rutinitas baru, kegiatan dan hal baru di
sekolah tinggi. Tapi sekali lagi, masih belum menemukan permasalahan mengenai
transportasi. Karena saat dibangku sekolah tinggi, strata satu, dengan kehidupan
dan tradisi ber”koloni”, bareng-bareng kemanapun, yang menyebabkan rasa
nyaman-nyaman aja. Ke kampus ngangkot bareng-bareng, trip yang lebih jauh, ada
teman yang bisa diajak bareng-bareng pula. Mobilisasi dan kegiatan pun masih
sekitaran kampus dan mudah sekali dijangkau. Intinya, tahapan satu ini
terlewati, masih belum sadar pentingnya bisa bawa kendaraan. Tapi sudah mulai
mau belajar.
Pakai toga di usia 21 tahun, artinya step yang
lain sudah dilewati, lalu berubah menjadi seorang guru muda dengan lokasi
tempat kerja dan rumah hanya berjarak puluhan meter saja. Jalan kakipun sampai,
kurang lebih seperti jarak 2-3 gerbongnya kereta api. Dekat sekali bukan?
Melewati usia 23 tahun sudah dilatih dan membiasakan diri untuk menggunakan transportasi publik, dari angkutan kota alias angkot,
ojek, becak, bus, busway, kereta dan pesawat. Udah berani sendiri keliling
sekitar Banten, ke Jakarta sendiri pakai bus dan busway, ke Bandara sendiri
tanpa diantar dan tanpa taksi hanya bermodal bus dan shuttle bandara, ke
Bandung, Bogor, Jawa Tengah bahkan Jawa Timur. Sendiri.
Banyak
cerita, banyak pengalaman. Misalnya, kisah dalam angkot, saat itu di bangku SMA
pernah punya cerita berteman dengan siswa sekolah lain yang hampir setiap pagi
naik angkot yang sama, orangnya lucu dan tampan. Kenalannya di angkot, kece kan?!! Haha,
don’t try this at home. Ya iyalah. hahaa.
Kisah lainnya dalam bus malam, pasti ada aja
cerita dengan kenalan sebangku di perjalanan bus malam. Cerita apapun itu, bahkan kenalan baru tersebut sampai curhat dan buat saya ga tidur semalaman cuma buat jadi pendengar yang
baik.
Kalau di becak lain lagi, biasanya si abang becak suka
ngajak ngobrol, curhat juga ujung-ujungnya, kayanya tampang saya ini persis
dokter terapi yang suka mendengarkan keluhan pasiennya. Dicurhatin di
mana-mana.
Kisah di pesawat lain lagi, lebih tepatnya di
bandara. Entah ada magnet apa, yang selalu mengantarkan saya dapat rejeki di
bandara, beberapa kali. Tapi yang satu ini harus hati-hati ya, biasanya saya ga
mudah percaya sama orang baru, intinya, kalau hati saya bilang dia baik, ya
udah, percaya gitu aja. Hati sih yang bicara, jadi sulit dijelaskan. Sama
seperti ditanya”kok mau sih nikah sama dia? Nah, lho, hati kan yang memilih”
kaya begitulah kiranya.
Tapi yang lebih miris itu kalau di busway, saya
pernah keterima kerja di sebuah perusahaan di Jakarta, selama naik busway, agak
suliti buat sosialisasi dengan sekitar. Semuanya nunduk, khusyu, fokus dengan
layarnya masing-masing. Itu sih pengalaman saya, pasti setiap orang
berbeda-beda.
Sampai
akhirnya, saya kembali menginjakan kaki di bangku sekolah lagi, sekolah strata
dua buat dapetin ilmu dan pengalaman, bukan hanya sekedar gelar. Lagi nyiapin
mental buat ngurus sesuatu hal yang lebih besar nantinya. Nah, disinilah saya
merasa harus berubah. Saya harus bisa segalanya, saya harus aktif, saya harus
bisa bawa motor, saya harus bisa bawa mobil, saya harus terbiasa naik
transpotasi publik, saya ga boleh ketergantungan, saya ga boleh manja.
dan
Saya suka jalan kaki.
Itu poinnya…
Di sekolah saya yang sekarang dan hampir
memasuki tingkat akhir membuat saya harus mandiri, ga ada lagi istilah
ber”koloni”. Apapun harus dilakukan sendiri, dengan kebiasaan untuk berkegiatan
produktif membuat saya harus survive. Kalau mau ini itu harus
sendiri, akhirnya terbiasa kemanapun naik transportasi publik, terbiasa
kemanapun berjalan kaki. Bisa kuat berjalan sampai 5 km. Sendiri.
Tapi banyak yang ngga percaya.
Ya iyalah, saya aja ngga percaya kalau hobi saya sekarang
berjalan kaki. Ayah saya yang melatih ini. Ya, Ayah saya.
Badan saya kecil, lebih tepatnya kurus, tetangga
di lingkungan saya pun ga percaya kalau saya merantau hingga Semarang dan
berani kemana-mana sendiri. Saya yang dikenal manja, kurus, bahkan mungkin
lemah bisa melakukan apapun sendiri. Walaupun daya dukung tubuh tidak sebanding
dengan banyaknya kegiatan, tapi hal ini yang justru membuat saya ga pernah mau
terlihat lemah. Ya kuncinya jaga kesehatan, kalau udah tahu lemah, maka perkuat
kelemahan itu. Salah satunya dengan berolahraga, walaupun ga rutin, setidaknya
"kebiasaan" berjalan kaki buat badan jadi berasa enak, udah jarang
yang namanya kena flu atau batuk. Ada kecualinya ya, kalau Allah
berkehendak. Tapi selama ada ikhtiar inshaAllah sehat hehee.
Jalan kaki dari kosan hingga kampus yang
jaraknya sekitar 2 km, tergantung rute yang diambil sih. Mau kemanapun selama
–bagi saya- jaraknya dekat, maka saya akan berjalan, dengan kaki.
Kebiasaan jalan kaki ini membuat saya terbiasa
berjalan cepat. Cepat menurut saya. Dan sudah pernah berjanji untuk tidak
pernah mengeluh lagi dengan urusan transportasi, baik publik maupun pribadi.
Ada waktunya saya bisa bawa kendaraan sendiri. insyaAllah ada.
Buat teman-teman yang sama-sama pengguna jalan PUBLIK,
yuk saling berbagi. Saya selalu terharu dan senang saat ada pengguna jalan yang
bijak saat dia membawa kendaraannya dengan mempersilahkan pejalan kaki untuk
menyebrang atau tidak menggunakan klakson dengan keras saat pejalan kaki mungkin menghalangi
jalan anda. Sama-sama saling memberikan ruang. Jika ingin dihormati, maka
hormati orang lain. Ilmu timbal balik masih ingat kan ya.
Cukup sekian, catatan terpanjang saya untuk blog
kali ini
Semarang, 7 Desember 2014
Siti Aisyah
Monday, 29 September 2014
Produktif, ga mau diem, pecicilan
atau apapun itu istilahnya untuk menggambarkan kalau saya ga bisa berdiam diri
di kosan, hingga liburan semesterpun saya isi dengan suatu kegiatan yang cukup
berpengaruh dalam tabungan pengalaman saya di kehidupan ini.
Beberapa hari menjelang liburan, saya
mulai mencari kegiatan apa yang bisa saya lakukan nanti. Saya sering mendengar
istilah Kelas Inspirasi karena dalam timeline
media sosial banyak yang menyinggung mengenai hal tersebut. Namun saat itu,
Kelas Inspirasi belum diadakan di Semarang.
Siapa yang menyangka kalau
saya berjodoh dengan kegiatan keren yang satu ini, disaat lagi kepo untuk mencari kegiatan, ternyata
Kelas Inspirasi diadakan di Semarang untuk pertama kalinya. Setelah mencari
informasi mengenai Kelas Inspirasi Semarang kemudian saya mendaftarkan diri
untuk bergabung menjadi relawan panitia Kelas Inspirasi Semarang.
Banyak hal luar biasa yang saya
dapatkan di sini, saya benar-benar memetik pelajaran yang belum pernah saya
dapatkan sebelumnya. Setiap pertemuan, bahasan, sistem koordinasi, ketegasan,
kerjasama dan kedisiplinan saya dapatkan dalam kepanitiaan ini. Panitia Kelas
Inspirasi Semarang yang akhirnya menjadi keluarga baru bagi saya.
Panitia dan relawan Kelas Inspirasi Semarang 1
Panitia Kelas Inspirasi Semarang 1
Satu hal yang saya ingat dan
berusaha saya praktikan dalam kehidupan ini adalah ketegasan. Ketegasan yang
dimiliki oleh setiap personil yang ada di Kelas Inspirasi Semarang. Poin
penting yang membuat mental luar biasa bagi setiap orang.
Dalam setiap pertemuan selalu
diiringi dengan bahasan yang bermanfaat, fokus yang ringan, membuat panitia
mengerti apa yang harus dikerjakan tapi juga tetap rileks dengan candaan yang
terngiang hingga sekarang. Koordinasi yang luar biasa dari setiap panitia yang
membuat group Whatsapp ga pernah ada
matinya kecuali baterai handphone saya yang mati hahaha.
Rapat bersama panitia Kelas Inspirasi Semarang 1
Kopdar-nya divisi recruitment
Kopdar-nya divisi acara
Kopdar divisi acara
Sosialisasi Kelas Inspirasi Semarang1
Tidak benar rasanya jika yang kami
jalani selalu mulus tanpa hambatan, hambatan yang diubah jadi tantangan membuat
saya belajar arti problem solving yang
sebenarnya. Saya menganggap mereka luar biasa karena banyak hal baru yang saya
pelajari disini.
*****
Dalam perjalanan Kelas Inspirasi
ini, saya pun dipertemukan dengan orang-orang yang istimewa, yaitu para relawan
pengajar, relawan photographer dan videographer. Bagaimana bisa mereka yang
seharusnya menginspirasi anak-anak Indonesia tapi dalam prosesnya ketika kami
bersama, saya yang terinspirasi dari setiap apapun yang mereka ucapkan dan
lakukan. Kemudian saya tersadar bahwa saya pun termasuk anak Indonesia hahaha.
Saya mengenal Mba Lestari yang
selalu menginspirasi dan mensupport saya untuk selalu menulis, karena Mba
Lestari adalah blogger sejati yang dikelilingi oleh kawan-kawan penulis yang
sudah melahirkan banyak buku. Dari mba Lestari saya belajar untuk menjadi seorang
penulis, kata mba Lestari “tulis apapun
yang ingin ditulis, random pun tidak menjadi masalah, ikuti kalau ada
kompetisi, nulis itu bikin ketagihan”. Luar biasa!!!
Berikutnya mba Fajar yang selalu
berkontribusi untuk pendidikan negeri dengan mengikuti Kelas Inspirasi sampai 6
kali di berbagai kota di Indonesia. Saya teringat kutipan Kelas Inspirasi
Semarang saat hari refleksi “Pendidikan
Indonesia bukan hanya tanggung jawab tenaga pendidik melainkan tanggung jawab
setiap orang yang terdidik” lalu sedikit kutipan janji kemerdekaan dalam
UUD 1945 “Mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Kedua kutipan tersebut telah direalisasikan oleh Mba Fajar walaupun profesinya
bukan sebagai guru, tapi jiwanya terpanggil untuk berkontribusi bagi negeri.
Saya salut dan terinspirasi untuk memberikan yang terbaik untuk negeri kita,
Indonesia.
Ada Mba Indri dan Mba Dian Nafi yang
berasal dari luar kota Semarang dan merelakan waktu serta tenaganya untuk
pulang pergi Semarang demi menginspirasi anak-anak Indonesia. Lalu mba Lulu
sang dokter cantik yang menyisihkan satu harinya untuk menjelaskan profesinya
secara detail kepada anak-anak dengan mengenalkan beberapa alat-alat
kedokteran. Saya jadi teringat ketika masih Sekolah Dasar yang hanya memimpikan
untuk mengenal alat-alat tersebut. Kemudian Mba Dala sang master chefnya Kelas
Inspirasi karena profesinya sebagai owner
sebuah resto yang telah menginspirasi melalui pengalamannya untuk menjadi
seorang entrepreneur sejati. Mas Imam sebagai penyiar radio yang sangat baik
dalam berkomunikasi. Kemudian Mba Putri sebagai seorang banker yang senantiasa
teliti dalam hal akuntansi, lalu mas Tito dan Mba Lusia Tri yang siap cuti
sehari untuk menginspirasi, serta Pak Ady sebagai pensiunan yang masih semangat
berkontribusi terhadap pendidikan Indonesia.
Relawan pengajar dan fasilitator kelompok 4
Disini saya tersadar bahwa mimpi dan cita-cita tidak
memiliki batasan, setiap orang bebas dan berani bermimpi untuk menjadi apapun
yang mereka inginkan, selama impian itu menjadikan kita semakin maju dan mau
belajar.
Saya mengenal mas Choirul, mas
Husnil, mas Hanif, mba Vivi dan mas Arkham sebagai relawan fotografer dan
videographer di Kelas Inspirasi Semarang. Mereka menginspirasi saya mengenai
sebuah passion dan seni. Keahlian itu
bisa dipelajari, selama kita mau belajar, otak kanan pun bisa digunakan.
Saat hari inspirasi, banyak hal yang
membuat saya terinspirasi dari anak-anak Indonesia khususnya para siswa/i SD
Kusuma Bhakti. Mereka menginspirasi saya dalam hal ketekunan, kebahagiaan dan
perdamaian. Tekun belajar dengan fasilitas sederhana, bahagia dengan apapun
yang mereka kerjakan dan perbedaan diantara mereka membuat kita sadar bahwa
anak-anak Indonesia pun mampu merealisasikan bahwa damai itu indah.
Bersyukur dapat melalui hari-hari dengan banyak
hikmah yang bisa diambil dan dipraktikan. Seperti hari ini, saya menuliskan
apapun yang ingin saya tulis. Ini adalah poin pertama saya dalam merealisasikan
inspirasi dari para inspirator Kelas Inspirasi Semarang.
Selanjutnya, semoga saya bisa
semakin berkontribusi untuk negeri dengan merealisasikan segala inspirasi yang
mereka berikan.
Kutipan yang selalu kita dengar “kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan
sekarang, kapan lagi?”.
Semarang, 29 September 2014
Siti Aisyah.
Sumber foto: panitia dan relawan
kelas inspirasi Semarang
Tuesday, 24 June 2014
Komunitas Tangan Kedua. Suatu komunitas baru dibidang sosial yang mengajarkan aku banyak hal.
Aku mulai bergabung dengan Komunitas Tangan Kedua sekitar bulan Oktober 2013, saat itu keinginanku untuk berkegiatan sosial sangat kuat. Alasannya sih sederhana, aku ingin berkegiatan, tapi kegiatan yang baru, yang belum pernah aku ikuti, bukan seperti organisasi formal dalam kampus.
Di sini aku ingin bercerita mengenai perubahan yang aku rasakan setelah bergabung dengan komunitas ini. Aku merasa menjadi diri aku yang baru. Aku pikir, itu merupakan hal yang wajar, everyone has changed, included me.
Aku yakin setiap orang memiliki rasa simpati dan empati dalam diri mereka masing-masing. Tapi tidak semua orang berani menunjukan rasa kepeduliaannya itu. Seperti itulah aku yang dulu, memiliki rasa kepedulian yang kuat terhadap orang lain tapi sukar untuk mengekspresikannya, terutama dalam hal tindakan.
Kepedulian itu ternyata bisa kita pelajari, apalagi jika dasarnya kita memiliki hati nurani yang peduli terhadap sesama tapi tidak mengerti cara mengungkapkannya. Disini untuk yang pertama kalinya aku belajar, belajar melakukan kepeduliaan secara langsung kepada orang lain, belajar mencintai anak-anak dan belajar peka terhadap sesama.
Dulu aku merasa kaku jika melihat anak-anak, kecuali saudara dekat atau tetanggaku, itupun hanya sekedar say "hai". Kaku sekali bukan? Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupku, saat bermain bersama anak-anak panti dalam kegiatan Tangan Kedua, aku merasa bahagia, aku mampu mengekspresikan kepedulianku. Bersama Tangan Kedua aku bisa belajar berbagi dengan sesama dan melihat sekitar kita yang sebenarnya begitu banyak yang membutuhkan kepedulian kita, jika kita peka.
Aku mulai bergabung dengan Komunitas Tangan Kedua sekitar bulan Oktober 2013, saat itu keinginanku untuk berkegiatan sosial sangat kuat. Alasannya sih sederhana, aku ingin berkegiatan, tapi kegiatan yang baru, yang belum pernah aku ikuti, bukan seperti organisasi formal dalam kampus.
Di sini aku ingin bercerita mengenai perubahan yang aku rasakan setelah bergabung dengan komunitas ini. Aku merasa menjadi diri aku yang baru. Aku pikir, itu merupakan hal yang wajar, everyone has changed, included me.
Aku yakin setiap orang memiliki rasa simpati dan empati dalam diri mereka masing-masing. Tapi tidak semua orang berani menunjukan rasa kepeduliaannya itu. Seperti itulah aku yang dulu, memiliki rasa kepedulian yang kuat terhadap orang lain tapi sukar untuk mengekspresikannya, terutama dalam hal tindakan.
Kepedulian itu ternyata bisa kita pelajari, apalagi jika dasarnya kita memiliki hati nurani yang peduli terhadap sesama tapi tidak mengerti cara mengungkapkannya. Disini untuk yang pertama kalinya aku belajar, belajar melakukan kepeduliaan secara langsung kepada orang lain, belajar mencintai anak-anak dan belajar peka terhadap sesama.
Dulu aku merasa kaku jika melihat anak-anak, kecuali saudara dekat atau tetanggaku, itupun hanya sekedar say "hai". Kaku sekali bukan? Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupku, saat bermain bersama anak-anak panti dalam kegiatan Tangan Kedua, aku merasa bahagia, aku mampu mengekspresikan kepedulianku. Bersama Tangan Kedua aku bisa belajar berbagi dengan sesama dan melihat sekitar kita yang sebenarnya begitu banyak yang membutuhkan kepedulian kita, jika kita peka.
Ternyata beberapa kegiatan rutin yang dilakukan tersebut telah terekam dalam sistem sensorik dan motorik ku. Pernah beberapa kali melakukan kegiatan serupa namun di luar kegiatan komunitas. Belakangan ini aku lebih suka memilih berjalan kaki dari kosan menuju kampus yang jaraknya tidak dekat menurut orang lain. Suatu hari, dalam perjalanan pulang, aku melihat seorang kakek yang sudah lanjut usia sedang berjualan beberapa benda pembersih rumah, kakek tersebut sedang duduk istirahat dan melamun. Ya, sekali lagi, refleks kaki ini berhenti begitu saja dan membeli beberapa benda yang sebenarnya aku sendiri pun tidak tahu untuk apa, tapi pasti berguna. Aku membeli bukan karena bendanya, tapi mata kakek tersebut yang berbicara.
Kemudian, aku pergi menuju minimarket, setelah mengambil beberapa kebutuhanku, aku mengantri di depan kasir, tepat di depanku 3 orang anak kecil dengan rambut kemerah-merahan karena terkena sinar matahari, mereka membeli 3 es krim dan membayarnya dengan uang receh. Saat kasir memberitahukan harga seluruhnya, ternyata uang mereka tidak cukup, lalu salah satu diantaranya mengembalikan 1 es krim ke tempat semula, bagi mereka yang terpenting adalah 2 es krim untuk bersama. Mungkin, jika aku adalah aku yang dulu, bisa jadi aku hanya berempati pada mereka dengan hanya bergumam dalam hati "kasihan mereka..." tapi tidak dengan aku yang sekarang.
Peduli itu penting, lebih penting lagi jika kepedulian itu diungkapkan dengan tindakan. Hal yang sederhana seperti memberikan kursi pun bentuk kepedulian yang luar biasa bagi penerimanya dan kebahagiaan tersendiri bagi pemberinya.
Jika kita memiliki potensi, ada baiknya cari wadah untuk mengembangkan potensi tersebut. Gabunglah dengan komunitas apapun yang melakukan kegiatan positif dan rasakan perubahannya, perubahan yang lebih baik tentunya.
Disinilah aku belajar, bahwa pengalaman membawa aku pada pemahaman yang lebih baik..
Memahami akan cinta yang didasari rasa ikhlas akan membawa kita pada kebahagiaan...
Siti Aisyah
Semarang, 24 Juni 2014
Saturday, 21 June 2014
Udah lama rasanya ga ngeposting tulisan, kali ini lagi pengen nulis santai tanpa bahasa formal. Saking gregetnya pengen nulis, rasanya yang ada dipikiran saat ini pengen segera dituangkan dalam bentuk tulisan.
Tulisan ini berangkat dari beberapa kejadian, sering mendengar bahkan membaca status tentang pemikiran seseorang terkait "permintaan tolong orang lain". Misalnya, "Kalau tiba-tiba ngehubungi pasti ada maunya".
Sekarang gini deh, kita hidup di dunia ini ga sendiri, jelas kan? Lalu, kita hidup pun bermasyarakat. Sejak SD pelajaran moral sudah kita pelajari tentang hidup bergotong royong. Sederhanakan sebenernya?
Tapi permasalahannya, dia ga pernah nongol, tiba-tiba muncul minta tolong? Begitu kan?
~Hey, coba yuk berpikir positif, jangan pernah curiga dulu. Anggap kawan kita, saudara atau teman tersebut memang sedang bergelut dengan segala rutinitasnya seperti kita. Kita pun sama, sibuk, dengan segala yang ingin kita gapai.
Kemudian, saat dalam perjalanan hidupnya, orang tersebut mengalami kesulitan lalu teringat kamu untuk dimintain tolong, menurut saya itu anugerah. Gimana tidak? Dengan kesibukannya dia mengingat kita untuk dimintain tolong, berarti dia menyimpan nama dan mengingat wajah kita dalam benaknya. Itu yang pertama. Yang kedua, harusnya kita bangga saat dimintain tolong, kenapa? Karena saat dia meminta tolong kepada kita, itu artinya, dia menganggap kita mampu dalam bidang yang mungkin dia butuh bantuan kita, apapun itu, boleh jadi kemampuan kita, pengalaman ataupun materi. So, kenapa kita mesti curiga dan malas untuk menolong teman bahkan saudara kita yang butuh pertolongan?
Entahlah ya, bagi saya untuk berpikir positif itu mungkin butuh waktu, tapi saya pribadi ketika telah melakukan kebaikan, salah satunya meringankan beban orang lain, seperti mendapatkan kebahagiaan yang tidak bisa saya interpretasikan. Hanya saya dan Tuhan saya yang tau.
Lalu, jika teman kita setelah dibantu menghilang kembali, kenapa kita mesti repot? Ingat ini >> "Jika kita meringankan beban orang lain, maka Allah akan meringankan beban kita". Atau bisa jadi orang lain yang akan membantu kita disaat kita kesulitan, jadi kebaikan bisa datang melalui tangan siapa saja. Intinya TIMBAL BALIK ITU PASTI ADA, istilah lainnya "siapa yang menanam buah, pasti akan menuainya" percayalah..
Tapi, jika saat dimintain tolong kita tidak mampu untuk menolongnya, itu kan hak kita, ga harus dipaksakan. Kita bisa minta maaf, atau membantunya dengan cara yang lain. Clear kan?
Bukan maksud hati untuk menggurui, tapi saya ingin menularkan kepada teman-teman saya yang baik hatinya untuk berpikir positif tanpa harus curiga terlebih dahulu.
Kenapa demikian? saya selalu teringat film IN TIME dimana saya membayangkan hidup saya hanya 24 jam. Dalam 24 jam saya tidak melakukan suatu kebaikan apapun, lalu apa yang akan saya pertanggungjawabkan kelak? Saya punya ilmu, pengalaman, uang 100 rupiah dan kemampuan lainnya yang mungkin orang lain butuhkan. Tapi saya simpan rapat-rapat untuk apa? Lalu saya kembali kepada-Nya dan mengubur semua yang saya punya tanpa saya bagi? Naudzubillah, tuntun saya Tuhan untuk selalu bisa berbagi terhadap sesama...
Habluminallah, habluminanas...
Wallahua'lam, hanya beropini
Yuk, tabur kebaikan untuk sesama :)
Tulisan ini berangkat dari beberapa kejadian, sering mendengar bahkan membaca status tentang pemikiran seseorang terkait "permintaan tolong orang lain". Misalnya, "Kalau tiba-tiba ngehubungi pasti ada maunya".
Sekarang gini deh, kita hidup di dunia ini ga sendiri, jelas kan? Lalu, kita hidup pun bermasyarakat. Sejak SD pelajaran moral sudah kita pelajari tentang hidup bergotong royong. Sederhanakan sebenernya?
Tapi permasalahannya, dia ga pernah nongol, tiba-tiba muncul minta tolong? Begitu kan?
~Hey, coba yuk berpikir positif, jangan pernah curiga dulu. Anggap kawan kita, saudara atau teman tersebut memang sedang bergelut dengan segala rutinitasnya seperti kita. Kita pun sama, sibuk, dengan segala yang ingin kita gapai.
Kemudian, saat dalam perjalanan hidupnya, orang tersebut mengalami kesulitan lalu teringat kamu untuk dimintain tolong, menurut saya itu anugerah. Gimana tidak? Dengan kesibukannya dia mengingat kita untuk dimintain tolong, berarti dia menyimpan nama dan mengingat wajah kita dalam benaknya. Itu yang pertama. Yang kedua, harusnya kita bangga saat dimintain tolong, kenapa? Karena saat dia meminta tolong kepada kita, itu artinya, dia menganggap kita mampu dalam bidang yang mungkin dia butuh bantuan kita, apapun itu, boleh jadi kemampuan kita, pengalaman ataupun materi. So, kenapa kita mesti curiga dan malas untuk menolong teman bahkan saudara kita yang butuh pertolongan?
Entahlah ya, bagi saya untuk berpikir positif itu mungkin butuh waktu, tapi saya pribadi ketika telah melakukan kebaikan, salah satunya meringankan beban orang lain, seperti mendapatkan kebahagiaan yang tidak bisa saya interpretasikan. Hanya saya dan Tuhan saya yang tau.
Lalu, jika teman kita setelah dibantu menghilang kembali, kenapa kita mesti repot? Ingat ini >> "Jika kita meringankan beban orang lain, maka Allah akan meringankan beban kita". Atau bisa jadi orang lain yang akan membantu kita disaat kita kesulitan, jadi kebaikan bisa datang melalui tangan siapa saja. Intinya TIMBAL BALIK ITU PASTI ADA, istilah lainnya "siapa yang menanam buah, pasti akan menuainya" percayalah..
Tapi, jika saat dimintain tolong kita tidak mampu untuk menolongnya, itu kan hak kita, ga harus dipaksakan. Kita bisa minta maaf, atau membantunya dengan cara yang lain. Clear kan?
Bukan maksud hati untuk menggurui, tapi saya ingin menularkan kepada teman-teman saya yang baik hatinya untuk berpikir positif tanpa harus curiga terlebih dahulu.
Kenapa demikian? saya selalu teringat film IN TIME dimana saya membayangkan hidup saya hanya 24 jam. Dalam 24 jam saya tidak melakukan suatu kebaikan apapun, lalu apa yang akan saya pertanggungjawabkan kelak? Saya punya ilmu, pengalaman, uang 100 rupiah dan kemampuan lainnya yang mungkin orang lain butuhkan. Tapi saya simpan rapat-rapat untuk apa? Lalu saya kembali kepada-Nya dan mengubur semua yang saya punya tanpa saya bagi? Naudzubillah, tuntun saya Tuhan untuk selalu bisa berbagi terhadap sesama...
Habluminallah, habluminanas...
Wallahua'lam, hanya beropini
Yuk, tabur kebaikan untuk sesama :)
Monday, 6 January 2014
Manusia merupakan makhluk yang dinamis, setiap detiknya berubah, baik jumlah helai rambut ataupun diameter pori-pori kulitnya. Tak dapat dipungkiri perubahanpun terjadi pada pemikiran dan tingkah laku manusia itu sendiri. Saat bertekad untuk hijrah menjadi pribadi yang ingin memanfaatkan waktu dengan produktivitas positif, yang bertujuan meningkatkan kualitas diri, menambah pengalaman, memperluas jejaring sosial secara nyata dan tentunya pengetahuan baru dari berbagai disiplin ilmu. Maka, sejak saat itu juga diperlukan tindakan nyata untuk merealisasikan niat tersebut. Bismillah, karena Allah.
****
Prolog di atas saya buat sebagai pengantar untuk catatan saya kali ini. Rasanya tidak lengkap jika mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru namun tidak saya tuangkan dalam sebuah tulisan. Seperti tokoh kartun yang terbentur lalu bertebaran bintang-bintang di atas kepalanya. Begitupun dengan rekaman pengalaman kemarin yang masih tersimpan dalam memori ingatan layaknya bintang-bintang bertebaran di atas kepala dan harus segera dituangkan ke dalam mangkuk sereal, maksudnya catatan hehe.
Entah bagaimana mengawalinya, saya sering
memulai hal yang baru dengan cara “tidak sengaja”, saya percaya, hal itu
merupakan cara Allah menunjukkan jalan-Nya. Suatu hari, sedang menonton
televisi sendiri di ruang tv kosan, karena hampir setiap stasiun tv saat ini memberikan
materi tontonan yang tidak patut menjadi tuntunan atau bahkan tidak memberikan
edukasi yang positif, sehingga saya pilih untuk menonton stasiun tv yang menayangkan
news (berita), sebut saja MetroTV. Disamping menambah pengetahuan tentang kabar
terbaru dunia luar, namun juga me-recharge informasi Indonesia terkini, haha
begaya.
Saat itu acara yang sedang ditayangkan
adalah “Tea Time with Desi Anwar”. Tamu yang diundang bukanlah orang yang saya
kenal, namun siapa sangka hanya dengan tayangan 30 menit mampu memberikan
kekaguman saya atas segala prestasi yang diraihnya. Dialah Muhamad Iman Usman
pendiri Komunitas Indonesian Future Leaders (IFL) .
Indonesian Future Leaders (IFL) adalah
sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang pemberdayaan pemuda dan
isu-isu sosial terkait kepemudaan. Sedangkan Parlemen Muda Indonesia adalah
program yang digagas oleh Indonesian Future Leaders yang bertujuan untuk
memfasilitasi suara pemuda dalam proses pembentukan kebijakan serta mendorong
tingkat partisispasi politik dalam negeri.
Setelah melihat tayangan tv tersebut secara
otomatis saya mencari akun resmi IFL di twitter dan informasi lebih lanjut
tentang organisasi kepemudaan ini. Hingga akhirnya mendapatkan info mengenai
akun Parlemen Muda Banten di twitter (@youthbanten). Tidak lama sejak saya tahu
mengenai IFL dan Parlemen Muda, kemudian muncul info terkait programnya
Parlemen Muda Indonesia yaitu Konsultasi Regional di seluruh provinsi di
Indonesia, salah satunya Banten. Tanpa pikir panjang, saya langsung menghubungi
contact personnya dan daftar sebagai delegasi umum untuk kegiatan konsultasi
regional tersebut.
Konsultasi Regional merupakan rangkaian
dari kegiatan Parlemen Muda bertujuan untuk melibatkan anak muda untuk
memberikan konten substansif terhadap sistem parlemen dan kebijakan terkait di
politik dalam negeri. Hasil dari Konsultasi Regional akan disampaikan kepada
pemangku kebijakan di kegiatan Majelis Pemuda dan Konferensi Temu Pemimpin.
Topik yang dibahas dalam Konsultasi
Regional yaitu:
a.
Keberlanjutan
Lingkungan dan Ekologi
b.
Hak
dan Kesehatan Seksual dan Reproduksi
c.
Pembangunan
dan Keadilan Sosial
d.
Anak
Muda dan Penggunaan Rokok, Miras, dan Zat Adiktif
e.
Pendidikan
dan Pemberdayaan Pemuda
f.
Topik
Pilihan (menyiapkan topik kepemudaan yang kami pikir ugent untuk dibahas)
Ada alasan menarik yang ingin saya sampaikan mengapa saya begitu antusias bergabung dalam kegiatan ini. Pertama, hampir 5 tahun terakhir saya tinggal di luar daerah dimana saya dilahirkan dan dibesarkan. Banyak sekali informasi yang tidak saya ketahui tentang Provinsi Banten, khususnya Kabupaten Pandeglang. Di luar sana banyak orang bertanya mengenai Banten dan Pandeglang. Entah saya yang krisis pengetahuan mengenai identitas Banten atau Banten yang belum memiliki identitas diri. Berdasarkan pengalaman saya selama di luar Banten, banyak sekali masyarakat yang belum tahu Banten, kalaupun tahu, mereka menyebutnya “oooh, Banten di Jawa Barat ya?”, tugas saya sebagai warga Banten untuk meluruskan ketika mendengar pertanyaan tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa Banten adalah provinsi baru yang awalnya menyatu dengan Jawa Barat. Jadi masih banyak yang beranggapan bahwa Banten itu adalah Jawa Barat. Well, apapun itu penting rasanya bagi saya untuk mengetahui lebih banyak mengenai Banten saat berada di luar Banten, karena layaknya duta wisata ketika pergi meninggalkan daerah asal menuju daerah baru, tidak sedikit yang bertanya menganai daerah dimana tempat kita tinggal. Disaat itulah presentasi mengenai daerah tercinta dilakukan.
Alasan lainnya berangkat dari kesadaran
di dalam diri muncul begitu saja, rasa yang begitu besar untuk mengetahui lebih
banyak tentang Banten merupakan awal kepedulian terhadap daerah saya sendiri. Jika
ada yang bertanya mengenai kontribusi yang sudah diberikan terhadap Banten
sebagai pemuda Banten, rasanya pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan paling
“JLEB” sedunia. Pertanyaan tentang ke-jomblo-an bukanlah segalanya tapi tentang
kontribusi diri untuk negeri? Hemmmm, malu sekali diri ini yang belum bisa berbagi.
Kedua hal di atas mewakili alasan saya
mengapa mengikuti Konsultasi Regional Provinsi Banten dan ikut bergabung
bersama pemuda/i Banten yang sama-sama memiliki visi dan empati yang besar
untuk memajukan Banten. Melakukan pengembangan kapasitas diri sebagai pemuda,
karena sangat “lucu” jika sebagai pemuda banyak menuntut perubahan namun apatis
terhadap perubahan.
“Ceritakan,
maka aku akan lupa. Tunjukkan, mungkin aku akan ingat. Libatkan, maka aku pasti mengerti.”
-Parlemen Muda Indonesia-
Beberapa kegiatan sosial saya ikuti
sebagai langkah awal dalam perubahan diri. Saya pikir bahwa perubahan dan
konsistensi adalah 2 hal yang saling berdampingan, bukan berlawanan. Jika
memilih untuk berubah menjadi lebih baik, maka konsistenlah dalam pilihan
kebaikan itu. Tidak ada istilah konsisten dalam keburukan, yang ada hanyalah
belum menemukan jalan kembali untuk menjadi baik. Jika Allah sudah memberikan
Rahmat-Nya, pasti ada jalan dalam setiap pintu kebaikan.
Wallahua’lam.
Siti Aisyah, Pandeglang – 6 Januari 2014
Wednesday, 4 December 2013
Manusia hanya bisa berencana, namun Allah yang menentukan.
Sepandai-pandainya manusia membuat rencana, rencana Allah jauh lebih
indah.
Rencana merupakan bagian dari kehidupan manusia sebagai tujuan dalam melakukan suatu hal, baik itu rencana kegiatan 1 menit ke depan ataupun rencana untuk tujuan masa depan.
Banyak rencana yang ingin kita lakukan, dari yang sederhana sampai rencana penting penentu kehidupan. Namun, tidak semua yang kita rencanakan di dunia ini dapat tercapai bahkan jauh dari yang diharapkan. Adalah wajar jika manusia mengalami kekecewaan jika rencana yang sudah dibuat dengan sangat matang tiba-tiba tidak terealisasi sebagaimana mestinya, manusiawi jika hal tersebut terjadi. Yang tidak diperbolehkan adalah kecewa terlalu mendalam dan membuat manusia tidak sadar bahwa Allah penentu segala hal yang kita rencanakan.
Saya suka melakukan perencanaan, seperti berencana akan mencuci pakaian esok pagi, keesokan harinya baru teringat bahwa ada rencana untuk menyelesaikan deadline tugas filsafat. Itu bukti bahwa tidak semua rencana yang kita buat harus sesuai dengan yang kita harapkan, terkadang bisa saja terbentur dengan rencana lain atau bisa jadi Allah belum mengijinkan walaupun hal tersebut merupakan hal yang sederhana.
Beberapa hari ini saya dibingungkan dalam menentukan suatu keputusan dari rencana yang saya buat. Saya memiliki sebuah rencana masa depan untuk menjemput ilmu. Sebenarnya ilmu bisa dijemput di mana saja, jauh ataupun dekat, semua sama. Namun, tentunya dari semua ilmu tersebut ada sisi lain yang berbeda, yaitu ilmu pengalaman.
Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengalami suatu hal yang mungkin bisa dikatakan "salah" dalam mengambil keputusan dan saat ini membuat saya berusaha hati-hati dalam menentukan pilihan. Kesalahan itu yang mengajarkan saya bahwa apapun yang saya pilih dalam perencanaan yang saya buat harus saya jalani, karena tanpa izin Allah semua tidak akan terjadi.
Allah mengetahui segala sesuatu bahkan sebelum hal itu terjadi, tugas saya sebagai hamba-Nya untuk meng-imani Qadha dan Qadar Allah. Saya hanya meminta petunjuk-Nya melalui sujud dan doa agar menuntun saya menentukan pilihan dalam menggapai ridho-Nya. Rancangan manusia tidaklah seberapa dibandingkan dengan rancangan Allah. Manusia hanya bisa menduga-duga apa yang akan terjadi jika membuat rencana A atau B, tapi Allah jauh lebih tahu mana yang terbaik untuk umat-Nya.
Rencana Allah tidak dapat terduga alurnya. Sehingga kita hanya dapat berikhtiar sesuai dengan yang diperintahkan. Untuk hasilnya, saya serahkan kepada Allah, itu hak prerogatif Allah. Saya bersyukur, Allah menghadapkan saya kepada 2 pilihan dan memberikan kesempatan untuk memilih, tapi sekali lagi hasil akhir tetap Allah penentunya. Saya ikhlas dengan ketentuan-Nya dan saya yakin hidup ini akan lebih ringan ketika kita hanya bergantung pada-Nya dan meyakini bahwa rencana Allah adalah rencana terindah dalam hidup ini.
Wallahu'alam.
"Tidak ada daya dan upaya selain pertolongan Allah".
By : Siti Aisyah
On December 4th, 2013
Rencana merupakan bagian dari kehidupan manusia sebagai tujuan dalam melakukan suatu hal, baik itu rencana kegiatan 1 menit ke depan ataupun rencana untuk tujuan masa depan.
Banyak rencana yang ingin kita lakukan, dari yang sederhana sampai rencana penting penentu kehidupan. Namun, tidak semua yang kita rencanakan di dunia ini dapat tercapai bahkan jauh dari yang diharapkan. Adalah wajar jika manusia mengalami kekecewaan jika rencana yang sudah dibuat dengan sangat matang tiba-tiba tidak terealisasi sebagaimana mestinya, manusiawi jika hal tersebut terjadi. Yang tidak diperbolehkan adalah kecewa terlalu mendalam dan membuat manusia tidak sadar bahwa Allah penentu segala hal yang kita rencanakan.
Saya suka melakukan perencanaan, seperti berencana akan mencuci pakaian esok pagi, keesokan harinya baru teringat bahwa ada rencana untuk menyelesaikan deadline tugas filsafat. Itu bukti bahwa tidak semua rencana yang kita buat harus sesuai dengan yang kita harapkan, terkadang bisa saja terbentur dengan rencana lain atau bisa jadi Allah belum mengijinkan walaupun hal tersebut merupakan hal yang sederhana.
Beberapa hari ini saya dibingungkan dalam menentukan suatu keputusan dari rencana yang saya buat. Saya memiliki sebuah rencana masa depan untuk menjemput ilmu. Sebenarnya ilmu bisa dijemput di mana saja, jauh ataupun dekat, semua sama. Namun, tentunya dari semua ilmu tersebut ada sisi lain yang berbeda, yaitu ilmu pengalaman.
Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengalami suatu hal yang mungkin bisa dikatakan "salah" dalam mengambil keputusan dan saat ini membuat saya berusaha hati-hati dalam menentukan pilihan. Kesalahan itu yang mengajarkan saya bahwa apapun yang saya pilih dalam perencanaan yang saya buat harus saya jalani, karena tanpa izin Allah semua tidak akan terjadi.
Allah mengetahui segala sesuatu bahkan sebelum hal itu terjadi, tugas saya sebagai hamba-Nya untuk meng-imani Qadha dan Qadar Allah. Saya hanya meminta petunjuk-Nya melalui sujud dan doa agar menuntun saya menentukan pilihan dalam menggapai ridho-Nya. Rancangan manusia tidaklah seberapa dibandingkan dengan rancangan Allah. Manusia hanya bisa menduga-duga apa yang akan terjadi jika membuat rencana A atau B, tapi Allah jauh lebih tahu mana yang terbaik untuk umat-Nya.
Rencana Allah tidak dapat terduga alurnya. Sehingga kita hanya dapat berikhtiar sesuai dengan yang diperintahkan. Untuk hasilnya, saya serahkan kepada Allah, itu hak prerogatif Allah. Saya bersyukur, Allah menghadapkan saya kepada 2 pilihan dan memberikan kesempatan untuk memilih, tapi sekali lagi hasil akhir tetap Allah penentunya. Saya ikhlas dengan ketentuan-Nya dan saya yakin hidup ini akan lebih ringan ketika kita hanya bergantung pada-Nya dan meyakini bahwa rencana Allah adalah rencana terindah dalam hidup ini.
Wallahu'alam.
"Tidak ada daya dan upaya selain pertolongan Allah".
By : Siti Aisyah
On December 4th, 2013
Thursday, 31 October 2013
Senja hari
menjelang matahari kembali pada peraduannya, saya duduk di sebuah kursi taman. Rindangnya
pepohonan membuat sejuk kota dengan sejuta cerita ini. Lalu lalang remaja dan
orang tua yang sedang olahraga di sore hari serta keluarga kecil yang terlihat
bahagia sedang mengajak putri kecilnya bermain dengan fasilitas publik di taman
ini. Perhatian saya terhadap orang-orang disekitar buyar begitu saja ketika ada
seorang wanita duduk di samping saya. Wanita muda seusia saya, mungkin sedang menunggu
seseorang atau hanya beristirahat sejenak dengan segala penat yang dihadapinya.
Itu hanya dugaan saya sebelum obrolan di antara kami terjadi. Percakapan di
awal terjadi saat dia bertanya “Aisyah, apasih tujuan hidup kamu?” serentak
saya kaget, bukan hanya karena pertanyaannya tapi dia juga tahu nama saya. Lalu
saya balas dengan kalimat tanya juga “maaf Mba?” saya sebut “mba” karena sapaan itu bisa diberikan
untuk perempuan setara atau sedikit lebih tua dari kita yang satu sama lain sudah
kenal ataupun belum tahu namanya. Saya sambung pertanyaan saya “kok mba bisa
tahu nama saya?”, Dari raut mukanya seperti tidak ada niat untuk menjawab
pertanyaan saya namun dia bersiap-siap untuk memulai sebuah cerita. Masih besar
rasa penasaran saya tentang ketahuannya terhadap nama saya, namun mba tersebut malah
memulai ceritanya.
“Dulu, saya pikir hidup saya itu
mulus, aman, tenteram dan damai. Selalu dikelilingi orang-orang baik tanpa ada
masalah dan bermasalah” kalimat pembuka cerita mulai keluar dari bibirnya. Saya
hanya memerhatikannya saja tanpa ingin memotong ceritanya. “namun ketika saya
mengenal dunia luar, dunia yang saya pikir dunia yang sebenarnya, mulailah
kehidupan saya berwarna, dari warna cerah, kelabu, hitam dan putih saya alami”
lanjutnya. Saya hanya mengangguk, sebagai bentuk setuju dengan warna kehidupan.
“Sebelumnya, dalam kehidupan ini, saya hanya belajar mengenai pelajaran yang
sudah tertulis nyata dalam sebuah kertas dan buku, pelajaran yang memiliki
guru, tentor atau mentor yang mengarahkan dan mengajarkan hal-hal yang tertera
dalam buku tersebut. Pelajaran mutlak yang harus dipelajari oleh setiap umat
manusia di bumi ini. Ya, pelajaran di sekolah”. Saya mulai penasaran dengan
kelanjutan ceritanya, saya berusaha menahan diri untuk bertanya ini dan itu,
saya membiarkan wanita di samping saya bercerita hingga akhir cerita. “heeemmmmm”
dia menghela nafasnya, sepertinya yang akan diceritakan begitu berat, sehingga harus
mengeluarkan sedikit karbon dioksida yang ada dalam dirinya. Sebuah sugesti
untuk membuang beban, padahal hanya membuat otak lebih refresh sejenak.
“Saya bingung mau mulai dari mana,
begitu banyak yang ingin saya keluarkan saat ini. Mungkin pointnya adalah
PERBEDAAN. Semua yang hidup di dunia ini pasti berbeda, iya kan Aisyah?” saya refleks
menjawab “eh, iya mba” pertanyaan dadakan yang hanya membutuhkan jawaban
persetujuan. Kemudian dia melanjutkan “ada yang kontra dan pro dengan
perbedaan. Bagi mereka yang setuju dengan perbedaan, mereka akan bilang bahwa
Perbedaan itu INDAH” saya kembali mengangguk karena saya juga setuju dengan
pernyataan tersebut--Pernyataan bahwa perbedaan itu indah. “Tapi Aisyah, yang
indah itu jika adanya toleransi diantara perbedaan tersebut”. Dia berhenti
sejenak, memandang langit yang mulai berwarna merah karena efek dari matahari
yang hendak membenamkan dirinya. Namun orang-orang disekitar masih asik bermain
di taman, karena hal yang indah pada saat ini adalah memiliki paru-paru kota
dan jauh dari polusi serta hiruk pikuknya kesibukan dunia kerja dan tentunya
tugas-tugas bagi yang masih pelajar, seperti saya.
“Toleransi dalam perbedaan itu
penting, perbedaan akan terasa indah jika kita bisa saling memberikan toleransi
satu sama lain untuk melakukan hal yang sama-sama kita sukai. Buktinya saja, di
negara ini banyak suku yang tidak saling bertoleransi terhadap perbedaan,
akhirnya timbulah perselisihan bahkan peperangan, akibat tidak adanya toleransi”.
Saya hanya mengangguk, “begitupun terhadap dua orang yang berbeda, seperti kita,
kita itu berbeda” wanita itu sambil menunjuk saya dan dirinya “tapi alangkah
indahnya jika dua orang yang berbeda tersebut saling bertoleransi atas apapun
yang hendak diperbuat, karena itu hak kita. Hak untuk melakukan hal yang kita
sukai. Tapi kamu tahu? Beberapa tahun ini saya merasakan bahwa perbedaan itu
hanya membuat hak saya menjadi hilang, terlalu berlebihan memang. Tapi itu yang
saya rasakan”. Sepertinya cerita mba di samping saya bakalan seru, kemudian
saya berkomentar “terus mba…”. Wanita itu melanjutkan “banyak beberapa hal yang
saya sukai harus saya tahan rapat-rapat untuk mencoba bertoleransi terhadap
orang lain yang tidak menyukai kebiasaan saya. Namun Aisyah, sekarang saya
sudah bebas, hak saya sudah kembali, senang sekali rasanya, saya tidak perlu panjang
lebar bagaimana ceritanya saat hak saya diambil begitu saja. Yang jelas, saat
ini saya lakukan apapun yang ingin saya perbuat dan mem-balas atas waktu yang sudah terbuang karena telah menyia-nyiakannya
begitu saja”, kemudian saya bertanya “memangnya hal apa yang dulu tidak bisa
mba lakukan?”.
“Sebenarnya hal yang sederhana,
tidak begitu penting bagi yang tidak merasakan bahwa hal itu sungguh
menyenangkan. Ketika seseorang tidak melakukan hal yang dia sukai, rasanya
seperti terjerat dalam jeruji, pernyataan saya berlebihan ya? Hahaha” dia
tertawa dan saya hanya tersenyum, karena teringat suatu hal yang sepertinya
familiar dengan cerita tersebut. “Hal sederhana itu seperti mengunjungi
perpustakaan, berlama-lama di sana untuk sekedar membaca dalam keheningan,
suasana perpustakaan yang dikelilingi buku-buku, orang-orang sekitar yang
berdiskusi satu sama lain. Pemandangan yang indah menurut saya, termasuk toko buku,
masuk ke toko buku layaknya memasuki pusat perbelanjaan baju-baju bermerk,
setiap judul buku itu terasa menarik untuk dibeli dan dibaca. Lihat buku
catatan yang kertasnya kosong dan seakan-akan berbisik untuk minta digoreskan
tintanya ke atas kertas kosong itu. Ya, saya termasuk salah satu orang yang
suka membawa buku agenda kemana-mana. Buku agenda yang lucu buat saya tertarik
untuk menuliskan agenda kegiatan yang harus saya lakukan dalam beberapa hari”. Hati
saya bergejolak, namun dia meneruskan ceritanya sebelum saya mengajukan
pertanyaan “berorganisasi juga hal yang saya sukai, bisa berkumpul dengan
orang-orang yang memiliki wawasan luas, berbagi cerita dengan mereka dan
semakin menambah ilmu yang sebelumnya belum saya ketahui. Hal lainnya yang dulu
tidak bisa saya ikuti adalah komunitas sosial, berbagi dengan orang yang
membutuhkan adalah hal yang paling istimewa bagi saya”.
Wanita itu terdiam sejenak lalu
melanjutkan kembali ceritanya “tapi sekarang saya bisa lakukan itu semua, saya
bisa ke perpustakaan sesuka hati, kapanpun saya mau, sering kali saya
mengunjungi toko buku untuk membeli beberapa buku yang ingin saya baca,
bergabung dengan komunitas sosial untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan.
Kamu tahu Aisyah? Ada perasaan haru ketika bisa belajar bersama dengan
anak-anak jalanan yang membutuhkan pendidikan, mereka semua lucu dan membuat
saya ingin berlama-lama bersama mereka untuk belajar, bergabung dengan
komunitas sosial lain untuk bisa berbagi untuk anak-anak yang berada di panti. Serta
bersosialisasi dengan kawan-kawan serta menambah teman baru dari berbagai
kalangan dan disiplin ilmu. Ini yang namanya hidup Aisyah, tujuan hidup saya
ingin melakukan hal yang saya sukai agar bisa berbagi kepada siapapun yang
membutuhkan saya, memiliki cita-cita membangun dunia pendidikan, agar saya bisa
beramal melalui ilmu”.
Saya hanya terdiam dan tidak bisa
berkomentar terhadap apa yang wanita itu ceritakan, kemudian dia kembali
berbicara “Aisyah, yang lalu biarlah berlalu, pelajaran masa lalu menjadikan
kamu lebih kuat saat ini, masalah yang dulu dihadapi cukup menjadi guru sejati,
karena pelajaran hidup yang kita terima tidak akan pernah ada dalam buku
pelajaran manapun di sekolah. Tak akan pernah ada, saya tahu bagaimana
perjuanganmu dalam menghadapi masalah. Baik internal maupun eksternal. Jangan pernah
benci siapapun, itu semua tidak akan pernah terjadi tanpa kehendak ALLAH SWT,
Tuhan yang Maha Kuasa atas segalanya. Manusia itu harus berubah, berubah
menjadi lebih baik, jika tidak berubah maka tidak ada bedanya dengan benda mati
yang statis. Ulat yang dibenci dan dianggap jijik sebagian orang saja harus
bersabar sampai akhirnya bermetamorfosa menjadi kupu-kupu yang cantik jelita
dengan warna sayapnya yang indah sehingga menjadikan dia hidup di taman yang
penuh dengan bunga indah menawan. Jadi hidup itu adalah sebuah proses menuju
kedewasaan. Kamu yang sekarang harus jauh lebih baik dari sebelumnya, Aisyah
yang dulu hanya ada dalam pangkuan seorang Umi (Aisyah memanggil ibunya dengan
sebutan UMI), Aisyah yang mungkin sebagian orang lain menganggapnya lemah,
namun saya percaya perjuangan untuk menjadi wanita tangguh bisa dipelajari dan
digapai. Jangan pernah jatuh ke lubang yang sama, kamu harus bisa BERCERMIN dari pengalaman yang pernah
kamu alami. Oke Aisyah?”.
Hening sejenak,
tak sempat saya menjawab pertanyaannya, namun kemudian saya menggelengkan
kepala berkali-kali BUKAN sebagai bukti tidak setuju atas pertanyaan wanita
tersebut, namun saya menyadarkan diri dari sebuah lamunan bahwa saya sedang
berbicara dengan pikiran saya sendiri. Wanita tadi adalah pikiran saya yang
muncul hanya dalam benak saya. Kemudian adzan magrib dilantunkan, saatnya saya
pulang dengan membawa motivasi baru mengenai kehidupan, yang sebenarnya bisa
muncul dalam diri kita sendiri.
Siti Aisyah, on
November 1st, 2013
Semarang
Subscribe to:
Posts (Atom)
Powered by Blogger.















