Pageviews

Popular Posts

About

Search Me

Wednesday, 30 October 2013

Sosial merupakan salah satu sifat manusia yang bermasyarakat untuk berinteraksi antar individu. Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk menjalin komunikasi dengan orang lain baik dalam keluarga, kelompok masyarakat, lingkungan sekolah, lingkungan kerja dan sosialisasi antar negara. Tujuan bersosialisasi untuk menjaling hubungan bermasyarakat, mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara efektif, mendapatkan pengalaman dan pengetahuan. Di jaman perkembangan teknologi saat ini mampu mempermudah manusia untuk bersosialisasi dengan sahabat, kerabat, rekan kerja bahkan teman baru dari benua lain yang memiliki bahasa dan kultur yang berbeda hanya dengan menggunakan “Media Sosial”.

Salah satu media sosial yang mudah digunakan adalah internet. Layaknya “jamur di musim hujan” internet menjadi tamu tak diundang yang diterima dengan senang hati dengan kehadirannya. Menurut Tancer (2008) dalam Juditha (2011) mengakses internet saat ini sudah menjadi rutinitas kebanyakan masyarakat. Tidak hanya dengan menggunakan komputer atau laptop saja tetapi kini dapat mengaksesnya melalui handphone dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh sejumlah provider telepon selular. Saat ini masyarakat tidak hanya menggunakan internet untuk berinteraksi dengan orang lain, namun juga menggunakannya sebagai sebuah sarana sosialisasi, membentuk hubungan yang lebih bertahan lama, bahkan malah dapat berkembang secara nyata di dalam kehidupan sosial. Penemuan yang disampaikan oleh manajer umum dari perusahaan penelitian Hitwise, Bill Tancer mengungkapkan bahwa semakin meluasnya audience pengguna internet, mengungkap fakta bahwa trafik pencarian untuk situs jejaring sosial atau situs pertemanan seperti Friendster, FB, MySpace, Hi5, Orkut, tagged dan sebagainya, telah mengalahkan para pencari situs porno. Ini menjadi indikator trend besar apa yang ada di masa mendatang.

Facebook (FB) merupakan salah satu situs pertemanan atau jejaring sosial yang belakangan sangat berkembang pesat dibanding situs pertemanan lainnya. FB sendiri adalah website jaringan sosial dimana para pengguna dapat bergabung dalam komunitas seperti kota, kerja, sekolah, dan daerah untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan orang lain. Sekarang ini Indonesia telah menjadi 'the Republic of the FB'. Ungkapan ini terinspirasi oleh perkembangan penggunaan FB oleh masyarakat Indonesia yang mencapai pertumbuhan 64,5% pada tahun 2008. Prestasi ini menjadikan Indonesia sebagai 'the fastest growing country on FB in Southeast Asia'. Bahkan, angka ini mengalahkan pertumbuhan pengguna FB di China dan India yang merupakan peringkat teratas populasi penduduk di dunia (Sahana, 2008 dalam Juditha 2011).

Perkembangan teknologi tidak dapat dibatasi, situs pertemanan di tahun 2013 semakin memuncak, Twitter merupakan media yang sedang digandrungi tidak hanya oleh remaja, namun juga media berita online, artis Indonesia maupun dunia dan para pemimpin negara seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Apakah semakin berkembangnya media sosial memberikan dampak positif untuk masyarakat selaku tokoh utama dalam hubungan sosial?
 
Saya menuturkan beberapa dampak positif dan negatif dari jejaring sosial ini.
Beberapa dampak posistifnya antara lain:
1.        Informasi mudah diperoleh
Penggunaan media sosial seperti twitter, facebook, blog dan lain-lain mempermudah untuk mendapatkan berbagai macam informasi karena sebagai penunjang sarana komunikasi bagi para penggunanya, baik untuk personal maupun komunitas sosial. Contonya informasi kelas, pendaftaran pendidikan, lowongan pekerjaan, koordinasi, sapaan, prospective volunteer, pencarian teman dan tempat, live tweet, menjalin kerjasama, komunikasi dengan akun lain, sharing photo dan update berita jauh lebih cepat diperoleh baik berita dalam negeri maupun luar negeri melalui berita online. Penggunaan media sosial dengan segala kelebihan yang dimilkinya, dapat secara mudah dan cepat dalam melakukan penyebaran informasi untuk memperluas jaringan tanpa memikirkan jarak, ruang dan waktu.
2.        Menciptakan lapangan pekerjaan/entrepreneur (Online Shop)
Menurut C. Widyo Hermawan (2009) dalam Setyani et al (2013), adanya penggunaan internet melalui media sosial, telah menghadirkan sebuah web forum yang dapat membentuk suatu komunitas online. Pada dasarnya forum online merupakan sebuah papan pengumuman yang tersedia dalam bentuk online. Namun seiring berjalannya waktu sebuah forum online mengalami perluasan fungsi, yaitu tidak hanya sekedar berbagi informasi melainkan sebagai sarana akomodasi antar sesama pengguna dan pihak yang memiliki forum tersebut.
Salah satunya dengan pemanfaatan akun atau sebuah media sosial untuk melakukan promosi usaha yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain yang tergabung dalam jejaring sosial tersebut. Contoh seorang entrepreneur yang menjadi terkenal karena media sosial yaitu Dian Pelangi, dengan akun twitternya @dianpelangi. Dian pelangi sebagai designer muda lulusan Sekolah Menengah Kejuruan yang menjadi terkenal karena mempromosikan hasil karyanya melalui media online dan saat ini sudah menjadi seorang designer untuk para artis terkenal dan sudah melakukan fashion show ke berbagai negara di Eropa, Australia maupun Asia.
3.        Menghasilkan penulis muda melalui komuitas blogger
Tidak dipungkiri bahwa media blog memang cocok bagi para penulis untuk mempublikasikan hasil tulisannya ke “media”. Tulisannya bisa dibaca oleh jutaan orang pengguna internet. Hal ini mampu mengasah kemampuan sesorang untuk menulis, baik bagi penulis yang baru belajar ataupun penulis handal, karena tidak ada persyaratan tertentu untuk menjadi seorang blogger, yang terpenting hasil tulisannya bukan plagiat hasil karya orang lain.

Dampak Negatif :
1.             Penyimpangan masyarakat sosial di dunia nyata
            Kehadiran media sosial mampu “menyihir” penggunanya untuk berlama-lama “bersosialisasi” di dunia maya dan tanpa disadari bahwa sebagian orang yang sudah “tercandu” dengan jejaring sosial, hampir melupakan kodratnya sebagai masyarakat sosial yang seyogyanya bersosialisasi secara nyata dengan masyarakat yang ada di lingkungan sekitarnya. Fenomena seperti ini sudah sering kita lihat di angkutan umum, taman, ruang tunggu, kelas, stasiun ataupun di area publik lainnya, sebagian dari mereka menundukan kepala dan memandangi layar kaca yang ada di depannya. Gadget dengan berbagai merk dan tipe yang menghubungkan mereka untuk bisa bersosialisasi dengan dunia maya yang ada dalam jejaring sosial. Tanpa kita sadari sosialisasi yang sesungguhnya bisa kita lakukan dengan orang yang duduk disamping atau disekitar kita saat berada di area publik tersebut. 

Sumber : http://jagatreview.com diakses 22 Oktober 2013
Gambar 1. Fenomena masyarakat sosial



 
Sumber : http://yes-online.com diakses 22 Oktober 2013
Gambar 2. Sosialisasi dengan dunia maya

2.             Pembohongan publik (Status palsu)
Update status, dua kata yang sering kita dengar sebagai tokoh utama pengguna jejaring sosial. Situs jejaring sosial merupakan suatu layanan yang memungkinkan seorang individu untuk dapat membangun representasi diri mereka sendiri kepada khalayak umum. Jejaring sosial memberi kebebasan kepada penggunanya untuk berekspresi melalui kata ataupun kalimat untuk berpendapat dan mengungkapkan isi hati. Namun fungsi dasar situs jejaring sosial seringkali disalahgunakan oleh penggunanya.
Pencitraan di jejaring sosial sering dilakukan agar terlihat lebih baik oleh orang lain, calon pacar ataupun teman sehingga memungkinkan para pengguna untuk melakukan “status palsu” baik dalam hal status yang sesungguhnya atau check in ke suatu tempat. Misalnya, salah seorang pengguna jejaring sosial meng-update status atau membuat tweet (istilah dalam Twitter) seperti ini : “Singapore panas ya” namun dibawah tweet tersebut GPS handphone menunjukan lokasi yang sesungguhnya yaitu “from Grogol Jakarta Barat”. Hal ini membuktikan bahwa pencitraan dilakukan agar terlihat lebih baik oleh orang lain dengan cara memperindah diri dalam dunia maya.
3.             Kriminalitas
            Tindakan kriminalitas di dunia ini bukan sesuatu hal yang tabu lagi dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tertutupnya hati nurani. Kriminalitas bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya media sosial, biasanya jejaring sosial facebook menjadi incaran para pelaku kriminal untuk mencari korbannya. Tidak jarang kita mendengar korban jejaring sosial yang terkena penipuan, penculikan bahkan pemerkosaan yang terjadi akibat facebook karena berkenalan dengan orang baru lalu yang memanfaatkan hal tersebut untuk mengelabui korban. Biasanya hal ini terjadi pada korban di bawah umur yang belum mengerti mana yang baik atau buruk untuk dirinya sendiri. Sehingga hal ini menuntut para orang tua untuk lebih mengawasi putra putrinya dalam menggunakan jaringan internet terutama jejaring sosial.

Jika kita perhatikan, tidak sedikit dampak negatif yang terjadi akibat jejaring sosial, selain yang disebutkan di atas, istilah lain yang sering kita dengar yaitu kata “alay”. Akhir-akhir ini, hanya di Indonesia fase perubahan manusia sebelum menjadi dewasa dibutuhkan satu fase lagi yaitu “alay” (Bayi – Balita – Anak-anak – Remaja – “Alay” – Dewasa). Bahkan fenomena alay pernah ditayangkan menjadi suatu bahan berita di stasiun televisi tertentu. Menurut Kriswanti (2010), kendati awalnya terasa lucu, fenomena alay belakangan cenderung mengkhawatirkan. Istilah alay ini bukan tiba-tiba saja muncul. Alay kependekan dari anak layangan. Tapi dalam perkembangannya. Terutama di ranah internet (jejaring sosial), ciri-ciri seseorang disebut alay sudah makin melebar. Namun pada intinya sama, alay ditujukan bagi mereka yang dianggap “norak” dan lebay. Tapi juga meluas pada cara berpakaian, sampai cara menulis yang ajaib seperti 4L@Y.

Teknologi hadir sebagai penunjang kemudahan aktivitas manusia, diharapkan dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Tidak kurang dan tidak juga lebih. Sosialisasi yang seimbang antara dunia maya dan nyata, serta memanfaatkan teknologi untuk ha yangl positif jauh lebih baik.

Manfaatkanlah teknologi, bukan dimanfaatkan oleh teknologi  :)
Wednesday, 11 September 2013

Entah kenapa tiba-tiba terbesit di masa depan nanti, jika kelak memiliki putra/putri ingin menjadi seorang "Full-Time Mother" yaitu menjadi ibu yg memiliki quality time untuk anak-anaknya. Agar bisa menuntun anak untuk memiliki karakter berkualitas yang ada di dalam diri mereka masing-masing.  Lalu kenapa saat ini masih sibuk mengeyam pendidikan? Dan terdaftar kembali sebagai mahasiswa pascasarjana yang berkeinginan kuliah di luar negeri, padahal secara logika untuk menjadi seorang Ibu Rumah Tangga tidak memerlukan ijazah apapun. Namun, saya pernah mendengar dan mengutip istilah "Wanita itu, kelak akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, yang jelas ia harus cerdas karena nantinya harus menjadi ibu yang mencerdaskan anak-anaknya".
Saya pikir tujuan dari pendidikan (kuliah) yaitu untuk mendapatkan ilmu serta pengalaman yang nantinya bisa saya bagikan untuk anak-anak saya, sehingga ketika saya mendidik mereka, tidak lagi mengatakan "Jadi begini nak, kata orang, bla bla blaa.." melainkan "Jadi begini nak, menurut pengalaman ibu, bla bla blaa..." sehingga lebih terpercaya karena mendidik anak sesuai dari pengalaman ibunya sendiri yang melancong mencari ilmu kemana-mana ketika masih muda hehehe.
Muncul beberapa pertanyaan terkait hal ini “jika memang tujuannya untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, untuk apa saat ini “buang waktu” mengejar pendidikan padahal tujuan dari pendidikan tinggi adalah jenjang karir yg tinggi pula? Ga sayang dengan pendidikannya?”.

Oke, ada beberapa poin dari tujuan pendidikan itu sendiri menurut saya:
1.        Tentunya jenjang karir yang lebih baik;
2.        Pengalaman, yang tidak dapat dibeli oleh orang lain, karena setiap orang punya ceritanya masing-masing dalam kehidupan ini. Misalnya, terdapat 2 mahasiswa yang kuliah di jurusan yang sama, namun jika kita tanyakan mengenai pengalamannya selama kuliah, bisa dipastikan keduanya memiliki cerita yang berbeda.
3.        Ini pendapat saya, ga menarik namun penting. Pernah dengar istilah pasangan hidup itu dibentuk sesuai dari kualitas diri kita? Bukan hanya berdasarkan bagaimana kita baik atau tidak, namun menurut saya dibentuk juga atas dasar kualitas "berpendidikan", keimanan dan kemuliaan diri kita. Makanya kenapa ada istilah "saya sedang mempersiapkan dan mengindahkan diri untuk mendapatkan pasangan yang tepat". Tentunya jika kita mengidamkan pasangan seperti Sayyidina Ali maka Fatimah-kan diri kita. Bukan berarti jenjang pendidikan sebagai patokan mencari pasangan, namun "berpendidikanlah" yang menjadi dasar wanita ingin dipimpin oleh imam yang lebih pintar darinya. Seseorang yang "berpendidikan" dengan orang yang memiliki gelar S3 itu berbeda. Ingat ya, BERBEDA. Orang bergelar S3 belum tentu "berpendidikan". Itu maksud saya. Jadi titel itu bukanlah segalanya tapi segalanya ditentukan oleh pendidikan (formal/informal). Bagaimana mau mengajarkan anaknya tentang satellite luar angkasa kalau ayahnya hanya tahu satelit antena di rumahnya? Hahaha *just kidding.
Jadi tidak ada salahnya saat ini seorang wanita mengejar pendidikan walaupun cita-citanya menjadi Ibu Rumah Tangga. Karena saya ingin menjadi Ibu Rumah Tangga yang berkualitas dan profesional untuk suami dan anak-anak saya kelak. Profesional memiliki 4 poin: Attitude (Sikap), Skill (Kemampuan), Knowladge (Pengetahuan) dan Experience (Pengalaman).
Oya, karena poin ketiga tentang pendidikan ini cukup sensitif jadi bacanya baik-baik dan hati-hati ya biar ga tersandung dan salah paham.
Wallahua'lam, just sharing my mind.
Sampai detik ditulisnya catatan ini keinginan tersebut masih kuat, semoga Allah tetap menjaganya hingga waktunya tiba nanti. Wallahua'lam.

By : Siti Aisyah . Semarang, August 28th, 2013.
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Bukan karenaku atau hebatku, melainkan atas ijin Allah. Saat mengambil keputusan resign dari tempat kerja dan berencana untuk melanjutkan pendidikan serta berupaya untuk mendapatkan beasiswa pendidikan ke Negeri Sakura, akhirnya I GOT ONE STEP. Perjuangan yang selama ini dilakukan berbuah manis. Allah tidak pernah mengingkari janjinya “Sesungguhnya dimana ada kesulitan disitu ada kemudahan dan sesungguhnya disamping kesulitan ada kemudahan (QS. Al-Insyirah:5-6). “Golden Ticket” yang saya perjuangkan selama ini akhirnya saya peroleh. Ketika score TOEFL menjadi salah satu kunci membuka gerbang dunia maka saat itu pula saya berusaha meraihnya. Score TOEFL pertama kali saya dapatkan hanya 400 tanpa persiapan belajar, kemudian saya membeli buku-buku TOEFL dan belajar otodidak dengan jadwal yang saya buat sendiri (sudah saya ceritakan di episode “Dreams Come True Part 1”) dan mendapatkan score TOEFL 447. Karena hasil yang diperoleh masih jauh dari harapan maka saya pergi untuk belajar lebih baik lagi ke Kampung Inggris, Pare, Kediri – Jawa Timur. Di sana saya mengambil program khusus untuk TOEFL serta program speaking. 2 bulan saya mempersiapkan diri untuk belajar dengan baik. Ketika di Pare score TOEFL saya tidak pernah konsisten, sesekali bisa mendapatkan score yang memuaskan namun seringkali terjun bebas tanpa payung pengaman. Pernah suatu saat merasa pasrah (hampir menyerah) dan memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Indonesia saja. Setalah 2 bulan di Pare akhirnya kembali ke Semarang untuk mempersiapkan berkas dan mendaftarkan diri kuliah di Universitas Diponegoro.

            Sesampainya di Semarang, saya langsung menemui dosen pembimbing saya ketika S1. Sedikit bercerita dengan beliau tentang pengalaman saya untuk meraih score TOEFL, saat itu saya bercerita jika setiap melakukan test TOEFL, hati dan pikiran saya selalu cemas dan deg-degan seakan-akan ditutupi oleh beban, kemudian beliau memberikan nasihat untuk fokus, tenang dan jalani prosesnya. Setelah beberapa minggu di Semarang dan konsultasi dengan dosen, saya langsung mendaftarkan diri di Magister Manajemen Sumberdaya Pantai Undip. Setalah daftar dan mempersiapkan diri untuk Tes Potensi Akademik serta Wawancara yang dilakukan tanggal 6-7 Juli 2013, sayapun mencoba untuk test TOEFL di Semarang. Dan ternyata hasil sesuai harapan, yaitu 510. Dan syarat untuk S2 Luar Negeri adalah 500. Alhamdulillah saya memperoleh score di atas score minimal. Hal ini memberikan kembali semangat saya menggapai impian kuliah ke negeri sakura dan memulai untuk mempersiapkan berkas-berkas untuk dikirim ke Jepang. Selain sertifikat TOEFL persyaratan lainnya yaitu Research Plan untuk tesis saya nanti dan beberapa berkas pendukung. Saat semua berkas persyaratan sudah beres dan dikirim ke Jepang tepat hari Jumat 12 Juli 2013.  Syukur Alhamdulillah tidak menunggu waktu lama untuk menantikan hasilnya, tepat 18 Juli 2013 saya mendapatkan Letter of Acceptance dari Chiba University Japan. Dan tanggal 19 Juli 2013 pengumuman hasil test dari UNDIP pun keluar dan Alhamdulillah dinyatakan LULUS sebagai mahasiswa baru magister undip.  Man jadda wa jada (siapa yang berusaha/bersungguh-sungguh pasti bisa/berhasil). InsyaAllah tahun 2014 menjadi tahun berseminya sakura. Semoga Allah memberikan Ridho-Nya hingga garis FINISH nanti. Aamiin. Tetap semangat, tetap berusaha dan berdoa. Innallaha ma’ana. 
Thursday, 5 September 2013
Ikhtiar. Itu yang sedang saya lakukan saat ini untuk bisa membuat semuanya menjadi nyata. Terdampar di Jawa Timur, Kediri – Pare untuk  mendapatkan “Golden Ticket” berupa kemampuan dasar berbicara bahasa inggris sebagai kunci menggapai impian keliling dunia. Sadar dengan kemampuan yang terbatas dengan bahasa. Seorang dosen pernah mengatakan bahwa kemampuan seseorang dalam penguasaan bahasa dan adaptasi dengan bahasa asing ada 2 jenis, yaitu kemampuan secara keturunan atau kemampuan yang dimiliki otak kanan jauh lebih baik dalam menerima bahasa baru, artinya dengan mendengarkan atau membaca bahasa yang bukan bahasa ibu akan mudah dengan cepat menyerap dan mengikuti dengan baik, kemudian jenis yang kedua untuk bisa menguasai bahasa baru dengan baik dan benar harus dengan usaha dan belajar dengan sungguh-sungguh. Sepertinya saya adalah orang dengan kategori kedua yang harus belajar dengan sungguh-sungguh untuk bisa berbicara baik ketika menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibu (bahasa Indonesia).
Hal inilah yang membuat saya menginjakkan kaki di kampung inggris. Di episode kedua kampung inggris sudah bercerita tentang pengalaman pertama kali ke sana dan mengenai camp di mana tempat saya tinggal. Satu lagi hal yang ingin saya sampaikan mengenai camp tersebut. Di sana terdapat peraturan yang wajib diikuti dan terdapat punishment jika dilanggar, namun peraturan tersebut benar-benar baik untuk seseorang yang bersungguh-sungguh untuk belajar, karena untuk bisa dan berani berbicara bahasa inggris sehari-hari harus ada “paksaan” secara langsung agar berani bicara dan terbiasa. Tapi jangan takut terhadap peraturan, karena kita akan dibimbing dan bebas bertanya kepada tentor atau teman jika tidak tahu arti dari kata-kata yang akan kita ucapkan dalam bahasa inggris. Yups, just have fun and make you comfortable.

Pada awalnya rencana untuk stay di Pare hanya 1 bulan namun ketika sampai di sana dan kemampuan dasar bahasa inggris masih berasa kurang matang maka saya menambah satu bulan lagi untuk melanjutkan perjuangan belajar di Pare. Di bulan kedua saya memutuskan untuk pindah dari camp ke boarding house. Seperti yang saya ceritakan di episode 1 bahwa boarding house tidak memiliki peraturan dan bukan english area serta tidak memiliki program khusus untuk penghuninya. Alasan saya untuk pindah ke boarding house karena di bulan ke 2 ini saya mengambil program intensif TOEFL dari pagi hingga sore hari bahkan pulang setelah magrib sehinga jika saya tetap stay di camp akan banyak pelanggaran yang saya lakukan terutama meninggalkan obligation program (program wajib) yang dilakukan setelah magrib. Anyway. Di bulan kedua saya mengambil program TOEFL di lembaga kursus-an OXFORD. Program TOEFL di oxford ini terpisah menjadi 2 yaitu program listening dan reading (dalam 1 paket) serta program structure. Program listening dan reading dimulai jam 5 pagi hingga jam 7 pagi kemudian program structure di mulai jam 10.00–13.00. untuk study club-nya dimulai pukul 16.00-18.00. Program structure ini terdiri dari level/STAGE 1 – 5 tergantung kemampuan structure kita. Saya mengambil program stage 3 karena lebih banyak scoring (latihan soal) karena saya pikir sudah mendapatkan cukup materi structure saat ambil program Pre-TOEFL di lembaga kursus Elfast sehingga yang saya butuhkan adalah membiasakan diri mengerjakan soal sebanyaknya-banyaknya. Scoring dilakukan hampir setiap hari bahkan sehari bisa 3 kali scoring untuk meningkatkan kemampuan menganalisa soal dan terbiasa mengerjakan soal structure sebanyak 40 soal dalam waktu 20 menit dengan tips dan trik yang diberikan.

Di oxford saya mendapatkan pengalaman yang jauh lebih menarik dan berkesan. Di sana saya mendapatkan sahabat yang luar biasa, teman-teman belajar yang istimewa karena cita-cita mereka yang begitu tinggi dan membuat saya termotivasi untuk bisa menggapai impian yang saya miliki. Amazing. Kami sama-sama belajar dan semangat juang kami begitu tinggi. Bahkan saat hari libur (sabtu-minggu) kami mengadakan study club sendiri untuk belajar dan membahas soal dengan lokasi belajar di luar kelas. Baru kali ini belajar grammar dan TOEFL namun otak ga berasa mau meledak tapi seru, asik dan …… menyenangkan. Membentuk persahabatan dengan orang-orang tersayang seperti Kak Weni (Aceh), Dian (Malang), Uphe (Purwakarta), Mas Bayu (Tuban), Bang Pyal (Palu), Nike (Surabaya), Nisa (Jakarta), Aullia (Jombang), Uchul (Palu), Faris (Jakarta).


                                       Scorring saat hari libur di warung ketan



                                           Scoring saat hari libur di bali house

               Melatih konsentrasi scorring di pinggir jalan depan warung ketan J

                                  Kelas kami bersama tutor gaul miss Ifa J

Oiya, belajar di Pare selalu ada refreshing atau jalan-jalan bersama dengan kawan-kawan tempat kursus-an. Destinasinya antara lain Gunung Bromo, Malang, Air Terjun Sedadu di Nganjuk, yang paling dekat adalah gumul (semacam tugu di daerah Kediri) dan masih banyak lagi.

                           Mengunjungi Bromo dengan kawan-kawan Oxford



Mengunjungi BNS (Batu Night Spectacular) Malang dengan kawan-kawan Oxford


                      Mengunjungi Gumul Kediri dengan kawan-kawan Oxford


 Mengunjungi Sedadu waterfall di Nganjuk + games outbond bersama kawan-kawan camp Zeal Boy dan Girl.


Tuesday, 20 August 2013
Yes, akhirnya bisa nulis lagi, janji saya yang akan bercerita tentang pengalaman belajar di kampung inggris akan saya share sekarang. Saya yakin hampir setiap orang di Indonesia terutama kalangan pelajar (siswa/mahasiswa) pernah mendengar bahkan tahu atau berpengalaman belajar di Kampung Inggris, Pare – Kediri. Sebelumnya saya pernah tulis sedikit secara umum tentang kampung inggris ini. Namun yang ingin saya tulis di sini terkait pengalaman belajar di sana.
Kegiatan belajar di Pare dimulai setiap tanggal 10 dan 25 disetiap bulannya. Lebih baik mengambil tanggal 10 untuk memulai kegiatan belajarnya karena tanggal 25 bagi saya merupakan tanggal yang ‘tanggung’ hanya untuk 2 minggu ke depan saja. Disarankan untuk survey terlebih dahulu sebelum mengambil program dan menentukan tempat tinggal karena banyak sekali macam program dan camp atau boarding house di Pare. Sebelum saya ke Pare dan menentukkan program apa saja yang akan saya ambil, terlebih dahulu saya tanyakan kepada beberapa teman yang memiliki pengalaman belajar di sana. Setelah saya dapatkan informasi mengenai tempat yang recomended untuk kebutuhan saya maka saya putuskan untuk mengambil program Pre-TOEFL di Elfast dan tinggal di camp Zeal Girl 2 (English area). Program dan camp-nya sudah di booking-kan oleh teman saya yang di Pare sehingga ketika saya ke sana semua sudah terkendali.
Saya berangkat dari Banten menuju Semarang terlebih dahulu untuk silaturahim dengan sahabat saya J. Transportasi yang saya gunakan untuk ke Pare dari Semarang dengan menggunakan travel, salah satu keuntungan menggunakan travel yaitu langsung diantarkan ke tempat tujuan sehingga tidak perlu repot-repot mencari alamat sendiri (terutama untuk pemula bagi saya yang tidak tahu lokasi). Saya hanya memberikan alamat camp kepada driver yang akan menjadi tujuan saya tinggal di Pare.
Berangkat dari Semarang sekitar jam 9 malam dan tiba di Pare sekitar pukul 5 pagi. Saya sampai di camp 2 hari sebelum kegiatan program di mulai tepatnya 8 April 2013.  Hari pertama di Pare hal yang saya lakukan adalah sewa sepeda untuk jalan-jalan di sekitar Pare dan survey lokasi Elfast tempat program TOEFL yang saya ambil, kemudian berkeliling dan melihat-lihat begitu banyak jenis dan tempat kursus-an serta camp yang ditawarkan di Kampung Inggris ini. Saat mendapatkan teman baru di Pare hal yang kami diskusikan yaitu tentang program apa saja yang akan diambil selama di Pare. Memang semua program yang ditawarkan di Pare sangat menarik untuk dipelajari. Dari mulai program speaking, TOEFL, Grammar, writing, IELTS, Pronunciation, vocabulary, listening, reading, translate dan masih banyak lagi tawaran program dari masing-masing tempat kursusan serta pengembangan dari setiap programnya pun beraneka ragam. Misalnya untuk kelas speaking terdapat berbagai macam kelas dan tingkatannya; yaitu foundation speaking, bridge speaking, active speaking, public speaking dan lain-lain.
Anyway, itu semua bisa diambil sesuai kebutuhan dan tujuan masing-masing individu serta berapa lama waktu yang disediakan untuk belajar. Kembali lagi ke tujuan awal belajar di Pare, prioritas yang paling utama. J
            Sehari sebelum program dimulai tepatnya tanggal 9 April 2013 di camp tempat saya tinggal menyelenggarakan test terlebih dahulu untuk menentukan level saat kita belajar nanti di camp (camp Zeal : Camp Zeal terdiri dari camp zeal boy 1 dan 2, camp zeal girl 1 & 2. Suatu tempat tinggal english area yang  memiliki program khusus juga untuk penghuninya. Terdiri dari 5 program (2 program wajib dan 3 program optional) dan terbagi menjadi 2 level). Test yang dilakukan hanya sekedar perkenalan dan tanya jawab menggunakan bahasa inggris untuk mengetahui kemampuan kita dalam berbicara bahasa inggris tujuannya untuk menentukkan level saat belajar nanti. Ketika tiba giliran saya dan perkenalan serta tanya jawab, ternyata hasilnya saya masuk ke level 2. Program yang diikuti untuk level 2 yaitu 2 obligation program (program wajib yang harus diikuti dan terdapat konsekuensi jika melanggar) : setelah subuh (jam 4.30 – 5.15) memorize expression program dan setelah magrib (18.15 – 19.00) presentation/discussion program dan 3 program optional (bisa diikuti atau tidak, tidak ada konsekuensi) : jam 7.00 listening program, jam 9.00 crazy speaking dan 16.00 pronunciation. Itu adalah 5 program di camp yang sudah termasuk dalam biaya administrasi saat masuk 350k untuk 1 bulan.
            Di camp pun ditentukan functionaries yang terdiri dari leader, police language (tugasnya memberikan punishment berupa poin jika ada teman yang melanggar peraturan berbicara selain bahasa inggris) dan lain-lain. Dan saat itu kawan-kawan camp memilih saya untuk memegang tanggung jawab sebagai leader. Yupss, harus siap! Rutinitas mulai dilakukan jam 4 pagi untuk persiapan sholat subuh berjamaah yang dilanjut dengan obligation program, kemudian daily duty dan persiapan untuk program berikutnya. Untuk yang satu ini saya tidak mengikuti program optional dari camp (listening and crazy speaking) karena berbenturan dengan program Pre-TOEFL saya di Elfast dari jam 7 – 10 pagi. Jam 14.00 saya ambil program speaking di tempat kursusan lain yaitu di Peace sampai jam 15.30 kemudian lanjut optional program di camp yaitu pronunciation. Untuk tempat belajar optional program camp biasanya dilakukan di lokasi camp zeal yang lain. Misalnya untuk program listening bersama-sama teman zeal girl 1 dan 2 serta boy 1 dan 2 di lokasi camp zeal 1 atau pronunciation program biasa dilaksanakan di camp zeal boy 2 (terdapat kelas khusus untuk belajar bersama). Setelah program selesai diwajibkan sebelum magrib sudah sampai camp karena harus mengikuti program wajib yang diselenggarakan setelah sholat magrib berjamaah. Program selesai jam 19.30, kemudian free time untuk dinner dan mengerjakan tugas lain yang diberikan dari setiap program.

            Di Pare, untuk yang pertama kalinya waktu berasa sangat berharga walaupun hanya 1 detik, untuk yang pertama kalinya melihat teman-teman yang bersungguh-sungguh dalam belajar, apapun kondisinya, untuk yang pertama kalinya pula ga pernah berasa cape dengan yang namanya belajar. Subhanallah. Magnet positif yang diberikan saat belajar di sana sungguh luar biasa. Next time, insyaAllah saya akan bercerita tentang pengalaman belajar di Pare namun tempat kursusannya yang berbeda. Jauh lebih menarik. See ya.
Powered by Blogger.