Pageviews
Popular Posts
-
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dibawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia dan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan da...
-
Merangkai serpihan mimpi untuk menjadikan impian yang sempurna. Bukanlah sebuah perjuangan yang sia-sia tak kala setiap puing-puing perju...
-
Ikhtiar. Itu yang sedang saya lakukan saat ini untuk bisa membuat semuanya menjadi nyata. Terdampar di Jawa Timur, Kediri – Pare untuk men...
-
Senja hari menjelang matahari kembali pada peraduannya, saya duduk di sebuah kursi taman. Rindangnya pepohonan membuat sejuk kota dengan...
-
Indonesia di “ elu-elu”- kan sebagai negara komsumtif tertinggi dan menjadikan masyarakatnya ketergantungan akan sesuatu. Ya, tidak dipungk...
-
Itulah mengapa aku harus keluar dari rumah. Untuk mengerti arti kerinduan. Itulah mengapa aku harus keluar dari rumah. Untuk mengerti a...
-
Komunitas Tangan Kedua. Suatu komunitas baru dibidang sosial yang mengajarkan aku banyak hal. Aku mulai bergabung dengan Komunitas Tangan ...
-
Finally, i have a blog. Sebenarnya keinginan untuk bisa berbagi tulisan dan mempublikasikannya melalui blog sudah ada sejak lama. Namun, ra...
-
Sepertinya hampir semua orang tau dimana dan apa itu kampung inggris. Suatu daerah yang menjadi tujuan manusia dengan berbagai profesi dan...
-
Lanjutan part 1 ... Setalah pilihan ditentukan, kini saatnya bagi saya untuk fokus menggapai impian. Semua akan tercapai jika kita mampu...
About
Blog Archive
About Me
Search Me
Wednesday, 30 October 2013
Sosial merupakan salah satu sifat
manusia yang bermasyarakat untuk berinteraksi antar individu. Sebagai makhluk
sosial, manusia dituntut untuk menjalin komunikasi dengan orang lain baik dalam
keluarga, kelompok masyarakat, lingkungan sekolah, lingkungan kerja dan
sosialisasi antar negara. Tujuan bersosialisasi untuk menjaling hubungan
bermasyarakat, mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara efektif,
mendapatkan pengalaman dan pengetahuan. Di jaman perkembangan teknologi saat
ini mampu mempermudah manusia untuk bersosialisasi dengan sahabat, kerabat,
rekan kerja bahkan teman baru dari benua lain yang memiliki bahasa dan kultur
yang berbeda hanya dengan menggunakan “Media Sosial”.
Salah satu media sosial yang mudah
digunakan adalah internet. Layaknya “jamur di musim hujan” internet menjadi
tamu tak diundang yang diterima dengan senang hati dengan kehadirannya. Menurut
Tancer (2008) dalam Juditha (2011) mengakses
internet saat ini sudah menjadi rutinitas kebanyakan masyarakat. Tidak hanya
dengan menggunakan komputer atau laptop saja tetapi kini dapat mengaksesnya
melalui handphone dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh
sejumlah provider telepon selular. Saat ini masyarakat tidak hanya menggunakan
internet untuk berinteraksi dengan orang lain, namun juga menggunakannya
sebagai sebuah sarana sosialisasi, membentuk hubungan yang lebih bertahan lama,
bahkan malah dapat berkembang secara nyata di dalam kehidupan sosial. Penemuan
yang disampaikan oleh manajer umum dari perusahaan penelitian Hitwise, Bill
Tancer mengungkapkan bahwa semakin meluasnya audience pengguna internet,
mengungkap fakta bahwa trafik pencarian untuk situs jejaring sosial atau situs
pertemanan seperti Friendster, FB, MySpace, Hi5, Orkut, tagged dan sebagainya,
telah mengalahkan para pencari situs porno. Ini menjadi indikator trend besar
apa yang ada di masa mendatang.
Facebook (FB) merupakan salah
satu situs pertemanan atau jejaring sosial yang belakangan sangat berkembang
pesat dibanding situs pertemanan lainnya. FB sendiri adalah website jaringan
sosial dimana para pengguna dapat bergabung dalam komunitas seperti kota,
kerja, sekolah, dan daerah untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan
orang lain. Sekarang ini Indonesia telah menjadi 'the Republic of the FB'.
Ungkapan ini terinspirasi oleh perkembangan penggunaan FB oleh masyarakat
Indonesia yang mencapai pertumbuhan 64,5% pada tahun 2008. Prestasi ini
menjadikan Indonesia sebagai 'the fastest growing country on FB in Southeast
Asia'. Bahkan, angka ini mengalahkan pertumbuhan pengguna FB di China dan India
yang merupakan peringkat teratas populasi penduduk di dunia (Sahana, 2008 dalam Juditha 2011).
Perkembangan teknologi tidak dapat
dibatasi, situs pertemanan di tahun 2013 semakin memuncak, Twitter merupakan
media yang sedang digandrungi tidak hanya oleh remaja, namun juga media berita online, artis Indonesia maupun dunia dan
para pemimpin negara seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Apakah semakin berkembangnya media sosial
memberikan dampak positif untuk masyarakat selaku tokoh utama dalam hubungan
sosial?
Saya
menuturkan beberapa dampak positif dan negatif dari jejaring sosial ini.
Beberapa
dampak posistifnya antara lain:
1.
Informasi
mudah diperoleh
Penggunaan media sosial seperti twitter,
facebook, blog dan lain-lain mempermudah untuk mendapatkan berbagai macam
informasi karena sebagai penunjang sarana komunikasi bagi para penggunanya,
baik untuk personal maupun komunitas sosial. Contonya informasi kelas, pendaftaran pendidikan, lowongan pekerjaan,
koordinasi, sapaan, prospective volunteer,
pencarian teman dan tempat, live tweet,
menjalin kerjasama, komunikasi dengan akun lain, sharing photo dan update berita
jauh lebih cepat diperoleh baik berita dalam negeri maupun luar negeri melalui
berita online. Penggunaan media
sosial dengan segala kelebihan yang dimilkinya, dapat secara mudah dan cepat
dalam melakukan penyebaran informasi untuk memperluas jaringan tanpa memikirkan
jarak, ruang dan waktu.
2.
Menciptakan
lapangan pekerjaan/entrepreneur (Online Shop)
Menurut C. Widyo Hermawan (2009) dalam Setyani et al (2013), adanya penggunaan internet melalui media sosial,
telah menghadirkan sebuah web forum yang dapat membentuk suatu komunitas online. Pada dasarnya forum online merupakan sebuah papan pengumuman
yang tersedia dalam bentuk online.
Namun seiring berjalannya waktu sebuah forum online mengalami perluasan fungsi, yaitu tidak hanya sekedar
berbagi informasi melainkan sebagai sarana akomodasi antar sesama pengguna dan
pihak yang memiliki forum tersebut.
Salah satunya dengan pemanfaatan akun
atau sebuah media sosial untuk melakukan promosi usaha yang dilakukan oleh
seseorang kepada orang lain yang tergabung dalam jejaring sosial tersebut.
Contoh seorang entrepreneur yang
menjadi terkenal karena media sosial yaitu Dian Pelangi, dengan akun twitternya
@dianpelangi. Dian pelangi sebagai designer
muda lulusan Sekolah Menengah Kejuruan yang menjadi terkenal karena
mempromosikan hasil karyanya melalui media online
dan saat ini sudah menjadi seorang designer
untuk para artis terkenal dan sudah melakukan fashion show ke berbagai negara di Eropa, Australia maupun Asia.
3.
Menghasilkan
penulis muda melalui komuitas blogger
Tidak dipungkiri bahwa media blog memang
cocok bagi para penulis untuk mempublikasikan hasil tulisannya ke “media”. Tulisannya
bisa dibaca oleh jutaan orang pengguna internet. Hal ini mampu mengasah kemampuan
sesorang untuk menulis, baik bagi penulis yang baru belajar ataupun penulis
handal, karena tidak ada persyaratan tertentu untuk menjadi seorang blogger,
yang terpenting hasil tulisannya bukan plagiat hasil karya orang lain.
Dampak
Negatif :
1.
Penyimpangan
masyarakat sosial di dunia nyata
Kehadiran
media sosial mampu “menyihir” penggunanya untuk berlama-lama “bersosialisasi”
di dunia maya dan tanpa disadari bahwa sebagian orang yang sudah “tercandu”
dengan jejaring sosial, hampir melupakan kodratnya sebagai masyarakat sosial
yang seyogyanya bersosialisasi secara nyata dengan masyarakat yang ada di
lingkungan sekitarnya. Fenomena seperti ini sudah sering kita lihat di angkutan
umum, taman, ruang tunggu, kelas, stasiun ataupun di area publik lainnya,
sebagian dari mereka menundukan kepala dan memandangi layar kaca yang ada di
depannya. Gadget dengan berbagai merk
dan tipe yang menghubungkan mereka untuk bisa bersosialisasi dengan dunia maya
yang ada dalam jejaring sosial. Tanpa kita sadari sosialisasi yang sesungguhnya
bisa kita lakukan dengan orang yang duduk disamping atau disekitar kita saat
berada di area publik tersebut.
Sumber : http://jagatreview.com
diakses 22 Oktober 2013
Gambar 1. Fenomena masyarakat
sosial
Sumber : http://yes-online.com
diakses 22 Oktober 2013
Gambar 2. Sosialisasi dengan
dunia maya
2.
Pembohongan
publik (Status palsu)
Update status, dua kata yang
sering kita dengar sebagai tokoh utama pengguna jejaring sosial. Situs jejaring
sosial merupakan suatu layanan yang memungkinkan seorang individu untuk dapat
membangun representasi diri mereka sendiri kepada khalayak umum. Jejaring
sosial memberi kebebasan kepada penggunanya untuk berekspresi melalui kata
ataupun kalimat untuk berpendapat dan mengungkapkan isi hati. Namun fungsi
dasar situs jejaring sosial seringkali disalahgunakan oleh penggunanya.
Pencitraan
di jejaring sosial sering dilakukan agar terlihat lebih baik oleh orang lain,
calon pacar ataupun teman sehingga memungkinkan para pengguna untuk melakukan
“status palsu” baik dalam hal status yang sesungguhnya atau check in ke suatu tempat. Misalnya,
salah seorang pengguna jejaring sosial meng-update
status atau membuat tweet (istilah dalam Twitter) seperti ini : “Singapore
panas ya” namun dibawah tweet tersebut GPS handphone
menunjukan lokasi yang sesungguhnya yaitu “from Grogol Jakarta Barat”. Hal
ini membuktikan bahwa pencitraan dilakukan agar terlihat lebih baik oleh orang
lain dengan cara memperindah diri dalam dunia maya.
3.
Kriminalitas
Tindakan
kriminalitas di dunia ini bukan sesuatu hal yang tabu lagi dilakukan oleh
orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tertutupnya hati nurani.
Kriminalitas bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya media sosial,
biasanya jejaring sosial facebook menjadi incaran para pelaku kriminal untuk
mencari korbannya. Tidak jarang kita mendengar korban jejaring sosial yang
terkena penipuan, penculikan bahkan pemerkosaan yang terjadi akibat facebook karena
berkenalan dengan orang baru lalu yang memanfaatkan hal tersebut untuk
mengelabui korban. Biasanya hal ini terjadi pada korban di bawah umur yang
belum mengerti mana yang baik atau buruk untuk dirinya sendiri. Sehingga hal
ini menuntut para orang tua untuk lebih mengawasi putra putrinya dalam
menggunakan jaringan internet terutama jejaring sosial.
Jika kita perhatikan, tidak sedikit
dampak negatif yang terjadi akibat jejaring sosial, selain yang disebutkan di
atas, istilah lain yang sering kita dengar yaitu kata “alay”. Akhir-akhir ini,
hanya di Indonesia fase perubahan manusia sebelum menjadi dewasa dibutuhkan
satu fase lagi yaitu “alay” (Bayi – Balita – Anak-anak – Remaja – “Alay” –
Dewasa). Bahkan fenomena alay pernah ditayangkan menjadi suatu bahan berita di
stasiun televisi tertentu. Menurut Kriswanti (2010), kendati awalnya terasa
lucu, fenomena alay belakangan cenderung mengkhawatirkan. Istilah alay ini
bukan tiba-tiba saja muncul. Alay kependekan dari anak layangan. Tapi dalam
perkembangannya. Terutama di ranah internet (jejaring sosial), ciri-ciri
seseorang disebut alay sudah makin melebar. Namun pada intinya sama, alay
ditujukan bagi mereka yang dianggap “norak” dan lebay. Tapi juga meluas pada
cara berpakaian, sampai cara menulis yang ajaib seperti 4L@Y.
Teknologi hadir sebagai penunjang kemudahan
aktivitas manusia, diharapkan dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Tidak
kurang dan tidak juga lebih. Sosialisasi yang seimbang antara dunia maya dan
nyata, serta memanfaatkan teknologi untuk ha yangl positif jauh lebih baik.
Wednesday, 11 September 2013
Entah kenapa
tiba-tiba terbesit di masa depan nanti, jika kelak memiliki putra/putri ingin
menjadi seorang "Full-Time Mother"
yaitu menjadi ibu yg memiliki quality
time untuk anak-anaknya. Agar bisa menuntun anak untuk memiliki karakter
berkualitas yang ada di dalam diri mereka masing-masing. Lalu kenapa saat ini masih sibuk mengeyam
pendidikan? Dan terdaftar kembali sebagai mahasiswa pascasarjana yang
berkeinginan kuliah di luar negeri,
padahal secara logika untuk menjadi seorang Ibu Rumah Tangga tidak memerlukan
ijazah apapun. Namun, saya pernah mendengar dan mengutip istilah "Wanita itu, kelak akan berkarir atau menjadi
ibu rumah tangga, yang jelas ia harus cerdas karena nantinya harus menjadi ibu
yang mencerdaskan anak-anaknya".
Saya pikir
tujuan dari pendidikan (kuliah) yaitu untuk mendapatkan ilmu serta pengalaman yang
nantinya bisa saya bagikan untuk anak-anak saya, sehingga ketika saya mendidik
mereka, tidak lagi mengatakan "Jadi
begini nak, kata orang, bla bla
blaa.." melainkan "Jadi
begini nak, menurut pengalaman ibu,
bla bla blaa..." sehingga lebih terpercaya karena mendidik anak sesuai
dari pengalaman ibunya sendiri yang melancong mencari ilmu kemana-mana ketika
masih muda hehehe.
Muncul beberapa pertanyaan terkait hal ini “jika
memang tujuannya untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, untuk apa saat ini “buang
waktu” mengejar pendidikan padahal tujuan dari pendidikan tinggi adalah jenjang
karir yg tinggi pula? Ga sayang
dengan pendidikannya?”.
Oke, ada beberapa poin dari tujuan pendidikan itu sendiri menurut saya:
Oke, ada beberapa poin dari tujuan pendidikan itu sendiri menurut saya:
1.
Tentunya jenjang karir yang lebih
baik;
2.
Pengalaman,
yang tidak dapat dibeli oleh orang lain, karena setiap orang punya ceritanya
masing-masing dalam kehidupan ini. Misalnya, terdapat 2 mahasiswa yang kuliah
di jurusan yang sama, namun jika kita tanyakan mengenai pengalamannya selama
kuliah, bisa dipastikan keduanya memiliki cerita yang berbeda.
3.
Ini pendapat
saya, ga menarik namun penting. Pernah dengar istilah pasangan hidup itu dibentuk
sesuai dari kualitas diri kita? Bukan hanya berdasarkan bagaimana kita baik
atau tidak, namun menurut saya dibentuk juga atas dasar kualitas
"berpendidikan", keimanan dan kemuliaan diri kita. Makanya kenapa ada
istilah "saya sedang mempersiapkan
dan mengindahkan diri untuk mendapatkan pasangan yang tepat". Tentunya
jika kita mengidamkan pasangan seperti Sayyidina Ali maka Fatimah-kan diri
kita. Bukan berarti jenjang pendidikan sebagai patokan mencari pasangan, namun
"berpendidikanlah" yang menjadi dasar wanita ingin dipimpin oleh imam
yang lebih pintar darinya. Seseorang yang "berpendidikan" dengan orang
yang memiliki gelar S3 itu berbeda. Ingat ya, BERBEDA. Orang bergelar S3 belum
tentu "berpendidikan". Itu maksud saya. Jadi titel itu bukanlah segalanya tapi segalanya ditentukan oleh
pendidikan (formal/informal). Bagaimana mau mengajarkan anaknya tentang
satellite luar angkasa kalau ayahnya hanya tahu satelit antena di rumahnya? Hahaha
*just kidding.
Jadi tidak
ada salahnya saat ini seorang wanita mengejar pendidikan walaupun cita-citanya
menjadi Ibu Rumah Tangga. Karena saya ingin menjadi Ibu Rumah Tangga yang
berkualitas dan profesional untuk suami dan anak-anak saya kelak. Profesional
memiliki 4 poin: Attitude (Sikap), Skill (Kemampuan), Knowladge (Pengetahuan) dan Experience
(Pengalaman).
Oya, karena
poin ketiga tentang pendidikan ini cukup sensitif jadi bacanya baik-baik dan
hati-hati ya biar ga tersandung dan salah paham.
Wallahua'lam,
just sharing my mind.
Sampai detik
ditulisnya catatan ini keinginan tersebut masih kuat, semoga Allah tetap
menjaganya hingga waktunya tiba nanti. Wallahua'lam.
By : Siti Aisyah . Semarang, August 28th, 2013.
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan
Semesta Alam. Bukan karenaku atau hebatku, melainkan atas ijin Allah. Saat
mengambil keputusan resign dari
tempat kerja dan berencana untuk melanjutkan pendidikan serta berupaya untuk mendapatkan
beasiswa pendidikan ke Negeri Sakura, akhirnya I GOT ONE STEP. Perjuangan yang selama ini dilakukan berbuah
manis. Allah tidak pernah mengingkari janjinya “Sesungguhnya
dimana ada kesulitan disitu ada kemudahan dan sesungguhnya disamping kesulitan
ada kemudahan (QS. Al-Insyirah:5-6). “Golden
Ticket” yang saya perjuangkan selama ini akhirnya saya peroleh. Ketika score
TOEFL menjadi salah satu kunci membuka gerbang dunia maka saat itu pula saya
berusaha meraihnya. Score TOEFL pertama kali saya dapatkan hanya 400
tanpa persiapan belajar, kemudian saya membeli buku-buku TOEFL dan belajar otodidak
dengan jadwal yang saya buat sendiri (sudah saya ceritakan di episode “Dreams
Come True Part 1”) dan mendapatkan score TOEFL 447. Karena hasil yang
diperoleh masih jauh dari harapan maka saya pergi untuk belajar lebih baik lagi
ke Kampung Inggris, Pare, Kediri – Jawa Timur. Di sana saya mengambil program
khusus untuk TOEFL serta program speaking. 2 bulan saya mempersiapkan
diri untuk belajar dengan baik. Ketika di Pare score TOEFL saya tidak
pernah konsisten, sesekali bisa mendapatkan score yang memuaskan namun
seringkali terjun bebas tanpa payung pengaman. Pernah suatu saat merasa pasrah
(hampir menyerah) dan memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Indonesia saja.
Setalah 2 bulan di Pare akhirnya kembali ke Semarang untuk mempersiapkan berkas
dan mendaftarkan diri kuliah di Universitas Diponegoro.
Sesampainya
di Semarang, saya langsung menemui dosen pembimbing saya ketika S1. Sedikit bercerita
dengan beliau tentang pengalaman saya untuk meraih score TOEFL, saat itu saya
bercerita jika setiap melakukan test TOEFL, hati dan pikiran saya selalu cemas dan
deg-degan seakan-akan ditutupi oleh beban, kemudian beliau memberikan nasihat
untuk fokus, tenang dan jalani prosesnya. Setelah beberapa minggu di Semarang
dan konsultasi dengan dosen, saya langsung mendaftarkan diri di Magister
Manajemen Sumberdaya Pantai Undip. Setalah daftar dan mempersiapkan diri untuk
Tes Potensi Akademik serta Wawancara yang dilakukan tanggal 6-7 Juli 2013, sayapun
mencoba untuk test TOEFL di Semarang. Dan ternyata hasil sesuai harapan, yaitu 510. Dan syarat untuk S2 Luar Negeri
adalah 500. Alhamdulillah saya memperoleh score di atas score
minimal. Hal ini memberikan kembali semangat saya menggapai impian kuliah ke
negeri sakura dan memulai untuk mempersiapkan berkas-berkas untuk dikirim ke
Jepang. Selain sertifikat TOEFL persyaratan lainnya yaitu Research Plan untuk
tesis saya nanti dan beberapa berkas pendukung. Saat semua berkas persyaratan sudah
beres dan dikirim ke Jepang tepat hari Jumat 12 Juli 2013. Syukur Alhamdulillah tidak menunggu waktu
lama untuk menantikan hasilnya, tepat 18 Juli 2013 saya mendapatkan Letter of Acceptance dari Chiba University Japan. Dan tanggal 19
Juli 2013 pengumuman hasil test dari UNDIP pun keluar dan Alhamdulillah
dinyatakan LULUS sebagai mahasiswa
baru magister undip. Man jadda wa jada
(siapa yang berusaha/bersungguh-sungguh pasti bisa/berhasil). InsyaAllah tahun
2014 menjadi tahun berseminya sakura. Semoga Allah memberikan Ridho-Nya hingga
garis FINISH nanti. Aamiin. Tetap semangat, tetap berusaha dan berdoa.
Innallaha ma’ana.
Thursday, 5 September 2013
Ikhtiar. Itu yang sedang saya lakukan saat ini
untuk bisa membuat semuanya menjadi nyata. Terdampar di Jawa Timur, Kediri –
Pare untuk mendapatkan “Golden Ticket”
berupa kemampuan dasar berbicara bahasa inggris sebagai kunci menggapai impian
keliling dunia. Sadar dengan kemampuan yang terbatas dengan bahasa. Seorang
dosen pernah mengatakan bahwa kemampuan seseorang dalam penguasaan bahasa dan
adaptasi dengan bahasa asing ada 2 jenis, yaitu kemampuan secara keturunan atau
kemampuan yang dimiliki otak kanan jauh lebih baik dalam menerima bahasa baru,
artinya dengan mendengarkan atau membaca bahasa yang bukan bahasa ibu akan
mudah dengan cepat menyerap dan mengikuti dengan baik, kemudian jenis yang
kedua untuk bisa menguasai bahasa baru dengan baik dan benar harus dengan usaha
dan belajar dengan sungguh-sungguh. Sepertinya saya adalah orang dengan kategori
kedua yang harus belajar dengan sungguh-sungguh untuk bisa berbicara baik
ketika menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibu (bahasa Indonesia).
Hal inilah yang membuat saya menginjakkan kaki
di kampung inggris. Di episode kedua kampung inggris sudah bercerita tentang
pengalaman pertama kali ke sana dan mengenai camp di mana tempat saya tinggal. Satu lagi hal yang ingin saya
sampaikan mengenai camp tersebut. Di sana
terdapat peraturan yang wajib diikuti dan terdapat punishment jika dilanggar, namun peraturan tersebut benar-benar
baik untuk seseorang yang bersungguh-sungguh untuk belajar, karena untuk bisa
dan berani berbicara bahasa inggris sehari-hari harus ada “paksaan” secara
langsung agar berani bicara dan terbiasa. Tapi jangan takut terhadap peraturan,
karena kita akan dibimbing dan bebas bertanya kepada tentor atau teman jika
tidak tahu arti dari kata-kata yang akan kita ucapkan dalam bahasa inggris.
Yups, just have fun and make you
comfortable.
Pada awalnya rencana untuk stay di Pare hanya 1 bulan namun ketika sampai di sana dan
kemampuan dasar bahasa inggris masih berasa kurang matang maka saya menambah
satu bulan lagi untuk melanjutkan perjuangan belajar di Pare. Di bulan kedua
saya memutuskan untuk pindah dari camp ke
boarding house. Seperti yang saya
ceritakan di episode 1 bahwa boarding
house tidak memiliki peraturan dan bukan english area serta tidak memiliki program khusus untuk penghuninya.
Alasan saya untuk pindah ke boarding
house karena di bulan ke 2 ini saya mengambil program intensif TOEFL dari
pagi hingga sore hari bahkan pulang setelah magrib sehinga jika saya tetap stay di camp akan banyak pelanggaran yang saya lakukan terutama
meninggalkan obligation program (program
wajib) yang dilakukan setelah magrib. Anyway.
Di bulan kedua saya mengambil program TOEFL di lembaga kursus-an OXFORD.
Program TOEFL di oxford ini terpisah menjadi 2 yaitu program listening dan reading (dalam 1 paket) serta program structure. Program listening
dan reading dimulai jam 5 pagi hingga
jam 7 pagi kemudian program structure
di mulai jam 10.00–13.00. untuk study
club-nya dimulai pukul 16.00-18.00. Program structure ini terdiri dari level/STAGE 1 – 5 tergantung kemampuan structure kita. Saya mengambil program stage 3 karena lebih banyak scoring (latihan soal) karena saya pikir
sudah mendapatkan cukup materi structure
saat ambil program Pre-TOEFL di lembaga kursus Elfast sehingga yang saya
butuhkan adalah membiasakan diri mengerjakan soal sebanyaknya-banyaknya. Scoring dilakukan hampir setiap hari
bahkan sehari bisa 3 kali scoring
untuk meningkatkan kemampuan menganalisa soal dan terbiasa mengerjakan soal structure sebanyak 40 soal dalam waktu
20 menit dengan tips dan trik yang diberikan.
Di oxford saya mendapatkan pengalaman yang jauh
lebih menarik dan berkesan. Di sana saya mendapatkan sahabat yang luar biasa,
teman-teman belajar yang istimewa karena cita-cita mereka yang begitu tinggi
dan membuat saya termotivasi untuk bisa menggapai impian yang saya miliki. Amazing. Kami sama-sama belajar dan
semangat juang kami begitu tinggi. Bahkan saat hari libur (sabtu-minggu) kami
mengadakan study club sendiri untuk
belajar dan membahas soal dengan lokasi belajar di luar kelas. Baru kali ini
belajar grammar dan TOEFL namun otak
ga berasa mau meledak tapi seru, asik dan …… menyenangkan. Membentuk
persahabatan dengan orang-orang tersayang seperti Kak Weni (Aceh), Dian
(Malang), Uphe (Purwakarta), Mas Bayu (Tuban), Bang Pyal (Palu), Nike (Surabaya),
Nisa (Jakarta), Aullia (Jombang), Uchul (Palu), Faris (Jakarta).

Scorring saat hari libur di warung ketan
Scoring saat hari libur di bali house
Melatih konsentrasi scorring di pinggir jalan
depan warung ketan J
Kelas kami bersama tutor gaul miss Ifa J
Oiya, belajar di Pare selalu ada refreshing atau
jalan-jalan bersama dengan kawan-kawan tempat kursus-an. Destinasinya antara
lain Gunung Bromo, Malang, Air Terjun Sedadu di Nganjuk, yang paling dekat
adalah gumul (semacam tugu di daerah Kediri) dan masih banyak lagi.
Mengunjungi Bromo dengan kawan-kawan Oxford
Mengunjungi BNS (Batu Night Spectacular) Malang
dengan kawan-kawan Oxford
Mengunjungi Gumul Kediri dengan kawan-kawan
Oxford
Mengunjungi Sedadu waterfall di Nganjuk + games
outbond bersama kawan-kawan camp Zeal
Boy dan Girl.
Tuesday, 20 August 2013
Yes, akhirnya bisa nulis lagi, janji saya
yang akan bercerita tentang pengalaman belajar di kampung inggris akan saya share sekarang. Saya yakin hampir setiap
orang di Indonesia terutama kalangan pelajar (siswa/mahasiswa) pernah mendengar
bahkan tahu atau berpengalaman belajar di Kampung Inggris, Pare – Kediri.
Sebelumnya saya pernah tulis sedikit secara umum tentang kampung inggris ini.
Namun yang ingin saya tulis di sini terkait pengalaman belajar di sana.
Kegiatan belajar di Pare dimulai setiap
tanggal 10 dan 25 disetiap bulannya. Lebih baik mengambil tanggal 10 untuk memulai
kegiatan belajarnya karena tanggal 25 bagi saya merupakan tanggal yang
‘tanggung’ hanya untuk 2 minggu ke depan saja. Disarankan untuk survey terlebih
dahulu sebelum mengambil program dan menentukan tempat tinggal karena banyak
sekali macam program dan camp atau boarding house di Pare. Sebelum saya ke
Pare dan menentukkan program apa saja yang akan saya ambil, terlebih dahulu
saya tanyakan kepada beberapa teman yang memiliki pengalaman belajar di sana.
Setelah saya dapatkan informasi mengenai tempat yang recomended untuk kebutuhan saya maka saya putuskan untuk mengambil
program Pre-TOEFL di Elfast dan tinggal di camp
Zeal Girl 2 (English area). Program dan camp-nya
sudah di booking-kan oleh teman saya
yang di Pare sehingga ketika saya ke sana semua sudah terkendali.
Saya berangkat dari Banten menuju Semarang
terlebih dahulu untuk silaturahim dengan sahabat saya J.
Transportasi yang saya gunakan untuk ke Pare dari Semarang dengan menggunakan
travel, salah satu keuntungan menggunakan travel yaitu langsung diantarkan ke
tempat tujuan sehingga tidak perlu repot-repot mencari alamat sendiri (terutama
untuk pemula bagi saya yang tidak tahu lokasi). Saya hanya memberikan alamat camp kepada driver yang akan menjadi tujuan saya tinggal di Pare.
Berangkat dari Semarang sekitar jam 9 malam
dan tiba di Pare sekitar pukul 5 pagi. Saya sampai di camp 2 hari sebelum kegiatan program di mulai tepatnya 8 April
2013. Hari pertama di Pare hal yang saya
lakukan adalah sewa sepeda untuk jalan-jalan di sekitar Pare dan survey lokasi
Elfast tempat program TOEFL yang saya ambil, kemudian berkeliling dan
melihat-lihat begitu banyak jenis dan tempat kursus-an serta camp yang ditawarkan di Kampung Inggris
ini. Saat mendapatkan teman baru di Pare hal yang kami diskusikan yaitu tentang
program apa saja yang akan diambil selama di Pare. Memang semua program yang
ditawarkan di Pare sangat menarik untuk dipelajari. Dari mulai program speaking, TOEFL, Grammar, writing, IELTS, Pronunciation, vocabulary, listening, reading, translate dan masih banyak lagi tawaran program dari masing-masing
tempat kursusan serta pengembangan dari setiap programnya pun beraneka ragam.
Misalnya untuk kelas speaking
terdapat berbagai macam kelas dan tingkatannya; yaitu foundation speaking, bridge
speaking, active speaking, public speaking dan lain-lain.
Anyway, itu semua
bisa diambil sesuai kebutuhan dan tujuan masing-masing individu serta berapa
lama waktu yang disediakan untuk belajar. Kembali lagi ke tujuan awal belajar
di Pare, prioritas yang paling utama. J
Sehari sebelum
program dimulai tepatnya tanggal 9 April 2013 di camp tempat saya tinggal menyelenggarakan test terlebih dahulu
untuk menentukan level saat kita belajar nanti di camp (camp Zeal : Camp
Zeal terdiri dari camp zeal boy 1 dan
2, camp zeal girl 1 & 2. Suatu tempat
tinggal english area yang memiliki program khusus juga untuk
penghuninya. Terdiri dari 5 program (2 program wajib dan 3 program optional) dan terbagi menjadi 2 level). Test
yang dilakukan hanya sekedar perkenalan dan tanya jawab menggunakan bahasa
inggris untuk mengetahui kemampuan kita dalam berbicara bahasa inggris
tujuannya untuk menentukkan level saat belajar nanti. Ketika tiba giliran saya
dan perkenalan serta tanya jawab, ternyata hasilnya saya masuk ke level 2. Program
yang diikuti untuk level 2 yaitu 2 obligation
program (program wajib yang harus diikuti dan terdapat konsekuensi jika
melanggar) : setelah subuh (jam 4.30 – 5.15) memorize expression program dan setelah magrib (18.15 – 19.00) presentation/discussion program dan 3 program optional (bisa diikuti atau tidak, tidak
ada konsekuensi) : jam 7.00 listening
program, jam 9.00 crazy speaking
dan 16.00 pronunciation. Itu adalah 5
program di camp yang sudah termasuk dalam biaya administrasi saat masuk 350k
untuk 1 bulan.
Di camp pun ditentukan functionaries yang terdiri dari leader,
police language (tugasnya memberikan punishment berupa poin jika ada teman
yang melanggar peraturan berbicara selain bahasa inggris) dan lain-lain. Dan saat
itu kawan-kawan camp memilih saya
untuk memegang tanggung jawab sebagai leader.
Yupss, harus siap! Rutinitas mulai dilakukan jam 4 pagi untuk persiapan sholat
subuh berjamaah yang dilanjut dengan obligation
program, kemudian daily duty dan
persiapan untuk program berikutnya. Untuk yang satu ini saya tidak mengikuti
program optional dari camp (listening and crazy speaking) karena berbenturan dengan program Pre-TOEFL
saya di Elfast dari jam 7 – 10 pagi. Jam 14.00 saya ambil program speaking di tempat kursusan lain yaitu
di Peace sampai jam 15.30 kemudian lanjut optional
program di camp yaitu pronunciation. Untuk tempat belajar optional program camp biasanya dilakukan
di lokasi camp zeal yang lain. Misalnya
untuk program listening bersama-sama
teman zeal girl 1 dan 2 serta boy 1 dan 2 di lokasi camp zeal 1 atau pronunciation
program biasa dilaksanakan di camp
zeal boy 2 (terdapat kelas khusus untuk belajar bersama). Setelah program
selesai diwajibkan sebelum magrib sudah sampai camp karena harus mengikuti program wajib yang diselenggarakan
setelah sholat magrib berjamaah. Program selesai jam 19.30, kemudian free time untuk dinner dan mengerjakan tugas lain yang diberikan dari setiap
program.
Di Pare, untuk
yang pertama kalinya waktu berasa sangat berharga walaupun hanya 1 detik, untuk
yang pertama kalinya melihat teman-teman yang bersungguh-sungguh dalam belajar,
apapun kondisinya, untuk yang pertama kalinya pula ga pernah berasa cape dengan
yang namanya belajar. Subhanallah. Magnet positif yang diberikan saat belajar
di sana sungguh luar biasa. Next time,
insyaAllah saya akan bercerita tentang pengalaman belajar di Pare namun tempat
kursusannya yang berbeda. Jauh lebih menarik. See ya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Powered by Blogger.

